25 September 2009

AKU INGIN PUASAKU

Aku ingin puasaku
Adalah puasa netraku dari segala yang tak pantas
Tunduknya pandanganku yang serupa panah beracun
Menancap tanpa kedip hal hal tak berguna yang merusak pahala
Tertutupnya kelopak mata kerana takut padaNya
Tertidurnya fungsi indera dari laknat dan maksiat

Aku ingin puasaku,
adalah puasa lisanku dr ghibah, dusta, pertengkaran dan perdebatan
yang menjadi harimau ganas mencakar muka sendiri
Menurunkan derajat menjadi alas kaki
Mengendalikannya dalam diam yang hakiki
Menyibukkannya dgn getar getar dzikrullah dan tilawah Quran

Aku ingin puasaku,
tulinya pendengaranku dr haram dan nistanya pembicaraan
Supaya tertutup prasangka
Kemudian melahirkan sebaij puisi cinta
Sehingga menggema indah
Berpantul pantul di dinding hati
Menyisakan gema yang tak pernah berakhir

Aku ingin puasaku
Engkau terima ya Allah
Aku takut tak melihat sedikitpun
Niat shaum yang susah payah kubangun
Aku takut aku hanya mendapati diriku lemas dan runtuh
Dalam lapar dan dahaga yg tak berguna
Aku takut jika Engkau menganggap tangan, kaki, perut dan seluruh anggota tubuhku
Tak pantas Kau sebut sebagai ibadah yg Kau terima
Aku takut ya Allah....

Parungpanjang, 26/8/2009

DOA RAMADHAN

Ramadhan,
Bisikkan di hatiku,
Nyanyian merdu surgawi penghangat sukma,
Hembuskan di lorong jiwaku angin nirwana penyejuk atma,
Bakar aku hingga melepuh dalam keringat penghisap dosa,

Ramadhan,
Lelehkan gunung es di otak busukku dengan panas api neraka,
Runtuhkan semua ulat hati dgn magmamu yg menggelora,
Biar sombong, iri, kemunafikan, riya', dengki, takabur ini,
Larut terbawa arus deras laharmu,
Meluncur ke dasar kontemplasi penuh makna,

Ramadhan,
Jadikan Tuhan sebagai alasan dari smua perbuatan.

Parungpanjang, 25 Sept 09.
Hari ini aku belajar....

Ketika mengajar aku belajar
tentang harga sbuah kesabaran
tentang sebuah hati yang harus tabah menghadapi polah bocah
tentang betapa tetes keringat harus mengukir karya abadi
tentang betapa hati harus peduli....
Pada lugu polos bocah pinggiran,
Pada tatapan mata kering haus perhatian,

ketika mengajar aku belajar....
Tentang arti kepedulian,
Kemudian tindak lanjut penilaian,
Menyambung akan arti ketuntasan,
Sabar mengulang yg ketinggalan....

Ketika mengajar aku belajar,
Tentang sebuah kehidupan

08 April 2009

Book Review
Judul Buku : Three Cups of Tea
Pengarang : Greg Mortenson dan David Oliver Relin
Tebal Buku : 623 halaman
Pembuat Review : Endang Setiyaningsih, S.Pd, M.M.

Buku ini bukan merupakan buku cerita fiksi karena semua berdasarkan kisah nyata. Buku merupakan memorabilia tentang seorang pejuang kemanusiaan yang dengan gigih mendirikan sekolah dan pendidikan untuk sebuah komunitas yang mempunyai pandangan dan prinsip yang berbeda karena suku yang ditolongnya adalah pemeluk agama Islam, seorang muslim, sedangkan dia adalah seorang Amerika yang memandang bahwa islam identik dengan terorisme.
Bagi anda yang hobby mendaki gunung, membaca buku three cups of tea ini merupakan semacam memori yang mengingatkan kita kembali akan pemandangan yang hanya bisa dinikmati dari ketinggian. Sensasi dingin dan hembusan angin yang tak dapat kita nikmati di tempat lain, atau keheningan malam yang mencekam dalam kesendirian. Tapi bukan hanya itu manisnya buku ini. Anda akan mengenal bagaiamana seekor semut tetapi mempunyai langkah bagaikan gajah, seorang kurcaci tetapi mempunyai kuasa bagaikan raksasa, seorang yang tidak kaya tetapi memiliki keinginan yang sangat besar untuk memberikan sesuatu untuk orang lain. Sesuatu yang teramat mahal harganya, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi penduduk suku balti yang ditolongnya. Bagaimana seorang yang biasa saja tetapi karena ketulusannya bisa melakukan hal yang sangat luar biasa nilainya.
Berangkat dari kegagalannya mendaki K2, pegunungan Karokaram yang berada di Pakistan, Greg Mortenson tersesat di kampung Korphe, pedalaman Pakistan yang merupakan suku terasing yang amat jauh dari sentuhan dunia luar. Kehangatan yang ditunjukkan penduduk Korphe dalam menjamu tamu sangat menyentuh hari Mortenson. Dalam kesederhanaan, atau bahkan bisa dibilang dalam kemiskinan, mereka berusaha memberi yang terbaik untuk tamu asing mereka. Bahkan makanan, yang jarang mereka makan, dan barang barang yang tak pernah mereka gunakan, dikeluarkan untuk sang tamu asing yang tidak pernah datang sebelumnya di kampung mereka.
Greg Mortenson, seorang pendaki gunung yang gagal menaiki puncak K2, terpisah dari rombongan, bahkan tersesat dalam kondisi yang mengenaskan, tiga bulan tidak mandi, makan seadanya, kehilangan 5 orang dari anggota tim ekspedisinya yang terdiri dari 12 orang, kondisi wajah, rambut, baju yang jauh dari penampilan orang balti kebanyakan, tidak membuat masyarakat Korphe meragukan Mortenson. Mereka menolong dan memberi dengan tulus.Haji Ali, Kepala kampung Korphe, mengatakan bahwa apabila anda ingin berhubungan dengan masyarakat sini, maka minumlah tiga cangkir teh dengan mereka. Cangkir pertama, anda adalah seorang asing, cangkir kedua, anda adalah seorang tamu, cangkir ketiga anda sudah menjadi keluarga.
Menyaksikan bagaimana anak anak penduduk kampung Korphe belajar, yaitu duduk melingkar di tanah terbuka dalam keadaan yang dingin, tanpa guru yang memandu, mencoret coret tanah dengan kayu karena tak punya kayu dan buku, benar-benar menjerat Morenson dalam masa depan yang panjang di Pakistan. Hati Mortenson tergerak untuk membuat sekolah di kampung Korphe dan dia berpamitan sambil berjanji akan kembali lagi untuk membuat sekolah di kampung ini
Greg Mortenson Bukan milyuner, dia berusaha mati-matian untuk memperoleh bantuan dana. Dan di Amerika, yang mayoritas non muslim, anda mencari danasi untuk penduduk Moslem yang negaranya terkenal dengan teoris dan muslim fanatiknya? Hampir tak mungkin., Dia berusaha mencari donatur untuk mendirikan sekolah yang diinginkannya. Setelah 580 surat dia kirimkan ke berbagai lembaga dan yayasan. Usahanya membawa hasil seorang pengusaha kaya tertarik dengan ketulusan hati Mortenson. Joen Hoerni yakin bahwa Mortenson pasti tak banyak akan mendapat dukungan karena menolong kaum Muslim di Pakistan, maka sebagai mantan pendaki, Jon Hoerni memberikan seluruh dana yang dibutuhkan oleh Mortenson dalam membangun sekolah itu.
Namun usaha Mortenson tak berjalan mulus, selain di tipu oleh seorang Pakistan yang licik, yang berusaha mengambil semua bahan bangunan yang sudah dibelinya, Mortenson juga terhalang sebuah sungai besar yang sama sekali tidak memungkinkan membawa ‘sekolahnya’ menyeberangi sungai tersebut untuk bisa sampai ke Korphe. Dengan gigih Mortenson kembali ke Amerika untuk mencari dana lagi guna membangun jembatan. Hingga akhirnya terwujud juga sebuah jembatan yang menghubungkan suku balti dengan dunia luar yang selama ini hanya terjadi jika mereka menyeberangi sungai tersebut dengan duduk di keranjang yang digantung pada tali yang menggantung tinggi di atas jurang sungai yang mengerikan dan tentu saja penuh dengan resiko
Sebuah sekolah di Korphe ternyata hanya sebuah awal. Melihat hasil kerja dan kesungguhan Mortenson dalam membelanjakan uang bantuannya Jon Hoerni memberikan modalnya untuk Mortenson, sehingga dia membuat sebuah yayasan Institut Asia Tengah (Central Asia Institut), dan menjadikan Mortenson sebagai direkturnya. Sekolah yang satu demi satu berdiri membuat Mortenson semakin terkenal di Pakistan. Menurutnya pendidikan merupakan salah satu cara untuk memerangi terorisme. Baginya mendidik perempuan lebih penting karena perempuan akan kembali ke asalnya, ke kampungnya untuk membawa perubahan. Dan itu hanya dilakukan oleh sedikit laki-laki.
Dr. Greg, panggilan Greg Mortenson Di Baltistan, adalah seorang pekerja kemanusiaan yang hebat. Dia rela berpisah dari anak dan istrinya dengan bolak balik Amerika Pakistan, dia menghabiskan hamper sepanjang tahun terbagi menjadi dua yaitu Pakistanm dan Amerika, Sebuah jarak yang tak dekat, bahkan ada di belahan bumi yangberbeda. Dia pernah diculik oleh milisi Taliban selama delapan hari dan akhirnya dilepas karena reputasinya di Pakistan sebagai seorang pendiri sekolah. Mortenson juga sempat terjebak dalam perang dan akhirnya selamat karena bersembunyi di bawah kulit binatang di dalam truk. Tetapi itu tak membuat langkah Mortenson surut dalam menebar sekolah di Pakistan.
Buku ini membuat kita berpikir. Betapa kita selalu menumpuk harta, untuk kita sendiri, dan enggan berbagi, Di belahan bumi lain, seorang Kafir(istilah suku balti dalam menyebut bangsa Amerika) berusaha memberi sesuatu yang sebetulnya tak dimilikinya. Langkah Mortenson adalah langkah raksasa yang penuh tapak yang membekas di Pakistan untuk selama lamanya selama bumi masih ada kehidupan.
adalah spirit yang bisa diharapkan mengisi kalbu para orangtua, guru dan jiwa jiwa yang peduli terhadap pendidikan, sehingga bisa membawa harapan Greg Mortenson, harapan kita semua, bahwa kita semua melakukan bagian masing-masing guna mewariskan perdamaian dan pendidikan pada anak anak kita, dan bukannya lingkaran tanpa akhir dari kekerasan, perang, eksploitasi, terorisme, rasisme, dan prasangka yang masih belum berhasil kita taklukkan.
Selamat Membaca.

27 Februari 2009

PSYCHO

Hasrat ingin membunuh Sheilla selalu muncul setiap kali dia membuatku marah tak terkira. Perasaan ingin memuaskan diri dengan melenyapkan kehidupan Sheilla selalu menguasaiku setiap waktu. Sudah beberapa kali aku merencanakan pembunuhan tetapi selalu gagal. Mujur baginya, lebur bagiku.
Seperti kejadian yang baru saja aku lihat tadi contohnya. Aku melihat Sheilla menggelayut mesra di lengan Fabio. Darahku berdesir, jantungku berdebar kencang. Kepala terasa mendidih oleh panasnya amarah jiwa. Aku sudah mencoba berbagai cara untuk meniadakan cewek itu, tapi dasar memang sial, Sheilla seolah mempunyai malaikat pelindung yang selalu menmdampinginya di saat saat maut yang aku tebar di tanganku mengincarnya.
Fabio adalah cowok yang benar-benar menguasai pikiran dan anganku. Aku cinta mati sama dia. Aku ingin dia jadi milikku. Memang selama ini kami bersahabat. Tapi persahabatan kami sudah cukup memuaskan diriku karena aku selalu mendapat seluruh perhatian darinya. Aku selalu menyediakan waktu untuk Fabio dan segala keperluannya. Aku yang selalu menyalin setiap catatan pelajaran untuknya. Aku yang selalu mengerjakan PR-nya, aku yang selalu membuatkan surat izin untuknya kalau dia sedang tidak mood belajar dan membolos dari sekolah entah kemana.
Fabio juga menunjukkan perhatian yang tak kurang buatku. Dia selalu mengantarku pulang dari sekolah, menjawab telpon dan smsku yang melebihi dosis minum obat setiap harinya, mendengarkan setiap curhatku mengenai apa saja. Tentu saja itu cukup membuatku merasa dekat dan terikat kepadanya. Prinsipku, cinta tak selalu harus diungkapkan dalam bentuk verbal yang kadang hanya sebentuk rayuan bulshit yang tak karuan. Perbuatan lebih berarti dari seibu kata-kata dan janji. Aku yakin, Fabio juga mencintaiku, walaupun tak ada komitmen yang terucap dari mulutnya. Tapi itu tak membuatku ragu akan ketulusan cintanya.
Hanya saja ada duri dalam hubungan kami semenjak sebulan yang lalu. Sheilla Anjani adalah murid kelas delapan yang selalu mengganggu Fabio dengan berbagai macam rengekan ini dan itu yang tentu saja membuatku sangat kesal. Kebiasanku pulang dengan Fabio sering terganggu karena Sheilla minta diajarin matematika. Janji Fabio terpaksa sering harus dibatalkan karena Sheilla minta diajarain naik motor. Belum lagi alasan-alasan lain yang semakin hari semakin membuatku berkeinginan kuat untuk menghilangkan nyawanya. Semakin lama aku semakin tercekik oleh kecemburuanku pada Sheilla.
Well, aku harus mencari solusinya. Aku harus membuat cewek itu jera. Dan menyesal karena telah merebut Fabio dariku. Satu-satunya jalan agar Sheilla jauh dari Fabio adalah maut. Ya. Sheilla harus mati. Sehingga dia tidak bisa menghalangiku untuk memiliki Fabio seutuhnya. Terlintas dalam pikiranku untuk menyiramkan air raksa ke wajahnya yang cantik itu, sehingga mukanya asti hancur dan tak menarik lagi. Namun mengingat Fabio yang berhati malaikat, yang tak pernah mengecewakan orang laian, aku takut yang terhadi justeru kebalikannya. Bisa saja karena kasihan, Fabio justeru akan semakin saying dan perhatian pada Sheilla. Oh No.
Ketakuanku akan kehilangan Fabio semakin menyiksa. Aku selalu gemetar setiasp saat Fabio menceritakan keakrabannya dengan Sheilla. Sementara kesempatanku untuk membunuhnysa tak jua kutemukan. Aku sudahj punya rencana untuk melakukan tabrak lari padanya tapi selalu ada Fabio yang membatalkan niatku yang tertunda.
Aku tak tahu lagi harus berbuat apa. Hari demi hari, waktu Fabio untukku semakin berkurang bahkan bisa dibilang tak ada lagi. Persahabatan kami dan ”percintaan” kami seolah tak pernah ada dan berarti bagi Fabio. Padahal aku sudah berbuat yang maksimal untuknya. Aku rela meyerahkan segalanya. Apapun yang aku punya, asalkan Fabio mau berpaling padaku. Asalkan Fabio menjadi milikku untuk selamanya.
Sudah hampir seminggu ini bisa dibilang aku tak benar-benar bertemu dengan Fabio. Di sekolah dia hanya say hello saja. Seolah aku ini orang asing baginya. Aku kangen padamu Fabio. Aku ingin bersamamu. Keman a saja seperti dulu yang seing kita lakukan. Ke toko buku, ke fitnes club, kemana saja, Faby, I want you my sweet heart.
Sore ini aku dating ke rumsah Fabio. Coklat berbentuk hati dan sebuah CD sudah aku persiapkan untuk membuatnya perhatian lagi padaku. Tapi apa yang kutemui? Fabio sedang berbincang mesra bersama Sheilla di teras rumahnya. Aku nekat membunyikan bel pintu. Fabio membukakan pintu pagar depan sambil tersenyum.
”Eh, Kathy, Silakan masuk”, sapa Fabio padaku
”Hallo sayang, aku kangen nih,” kataku sambil mencium pipinya. Tanganku masih melingkar di pingganya ketika akhirnya Sheilla ikut berdiri menyambutku. Aku melihat wajahnya pucat pasi melihat tingkahku. Sementara Fabio dengan kikuk berusaha melepaskan pelukannku di pinggangnya.
Suasana jadi hening. Aku menatap Sheilla dengan penuh kemenangan. Aku puas melihat pias wajahnya dan airmata yang perlahan menetes ke pipinya. Dengan segera dia berpamitan pada Fabio.
”Fab, aku pulang,” katanya lesu, suaranya serak hampir tak terdengar.
Ia berjalan sambil menunduk. Kulhat fabio tidak bisa berbuat apa-=apa. Dia mengantakan Sheilla sampai ke pintu gerbang. Setekah itu dengan cepat ia berbalik ke aku yang duduk duduk santai. Sorot matanya garang. Sepetinya baru kali ini aku mlihat ekspresi wajahnya seperti itu. Dengan kasar dia menarik lenganku dan mencengkeramnya dengan kuat sehingga aku kesakitan. Dirtariknya aku ke sofa.
”Who do you think you are?” teriaknya menggelegar.
Aku tersenyum.
“Jangan marah dong, Sayang. Aku kan kekasihmu, wajar dong kalau aku berusaha mempertahnkan dirimu. Aku ga mau kamu sma Sheilla. Uou’re mine. Ibuku boleh kehilangan ayahku. Karena ia terlalu lemah sebagai seorang wanita. Ibuku tak sanggup mempertahnkan cinta ayhku, tapi aku bisa. Karena aku bukan ibuku. Aku lebih kuat dari ibuku. Aku bisa mempertahnkan apa yang menjadi milikku. Kau milikku Faby,...bukan milik Sheilla. OK, aku memang berasal dari keluarga yang broken, ayah dan ibuku divorced setelah berbulan-nulan menghiasi rumah kami dengan berbagai macam pertengkaran dan keributan. Aku selalu gemetar stiap kali mereka berteriak, saling memaki satu sama lain. Tapi aku bersyukur karena kejadian itu yang membuatku menjadi kuat seperti sekarang ini. Aku janji padamu Faby, aku akan menjadi yang terbaik untukmu”.
Wajah Fabio menunjukkan keterkejutan yang amat sangat setelah mendengar kisah keluargaku. Kedua tangannya mencengkeran lenganku. Antara marah dan iba, dia berkata,”
”Khaty, kita hanya sahabat, darimana kamu mendapat ide bahwa kita ini adalah sepasang kekasih?”, tanya Fabio.
”No, We’re belong together,” sahutku sambil beringsuty mendekatinya. Dia duduk membelakangiku sambil menatap ke taman. Aku memelukknya dari belakang. Dia terkejut dan berusaha untuk melepaskan diri.
“Ayolah, Faby, I’m all yours, You can do anything you wanty,” suaraku memohon.
“Are you sick or what…? Fabio kelihatn semakin marah.
“No, Honey, It’s because I love you,” rayuku.
“ Dasar Pshyco…,” teriaknya sambil berdiri meninggalkan aku seraya masuk ke dalam rumah sambil membanting pintu dengan keras. Aku hanya tersenyum. Ah Fabio, cintaku, Bahkan dalam marahmu aku menemukan cinta.”
Masih sambil tersenyum aku meninggalkan rumah Fabio. Langkahku terasa sanngat ringan karena aku merasakan kebahagiaan yang tiada taranya. Faby, tak ada yang lebih berhak atas dirimu, kecuali aku.
Hari ini aku melengkapi kebahagiannku dengan meletakkan gift box di depan pintu rumah Sheilla yang berisi secarik kertas yang bertuliskan
”Kita putus, Khaty lebih berarti untukku,”
Dari Fabio
Tak lupa aku memasukkan hati ayam yang sebelumnya aku beli di warung. Tentu saja tak lupa aku menghancurkan terlebih dahulu, sebagai tanda hancurnya sebuah hati karena kehilangan cinta. Bau gift box itu tercium sangat wangi menyentuh hidungku.

It’s a peace of cake, ternyata aku tak harus membunuh Sheilla untuk memisahkannya dari Fabio. At least untill now. Mungkin nanti ketika segala cara sudah aku tempuh sudah tak mempan lagi, mau tak mau aku harus melakukannya. Banyak jalan kok menuju Roma. Where’s there is will there is a way.
Sementara di sekolah sedang heboh. Seluruh siswa selalu berbisik-bisik ketika melihat aku ataupun melihat Fabio. Bahkan ada yang dengan terang-terangan menyindir Fabio dengan berbagai macam ungkapan, ada yang berteriak,”Gimana ya, rasanya?” Kemudian diikuti dengan koor ”huuuuuu” dari mereka. Fabio mungkin bingung dengan semua sindiran itu, tapi bagiku tidak. Aku justeru akan mengambil keuntungan dari semua ini, karena pasti tak ada makhluk yang bernama cewek mau berdekatan lagi dengan Fabio. Dan itu gampang. Lihat saja tulisan di kamar mandi siswa...
”I lost my virginity with Fabio”
Dan itu semua berarti bahwa peluang untukku dalam mendapatkan Fabio semakin jelas dan dekat. Hanya aku dan Fabio. Tanpa Sheilla. Bahkan segera setelah Ujian Nasional aku akan menjadi nyonya Fabio karena orangtuanya telah berjanji akan menikahkan kami setelah aku mendatangi mereka dengan bersimbah airmata, aku mengaku hamil oleh Fabio. Aku menangis, meratap, dan menghiba di depan mereka. Aku memohon agar Mereka membujuk Fabio untuk mau menikah dengan aku karena telah merenggut keperawananku dan bahkan Fabio juga telah menanamkan benih di rahimku. Aku lebih baik mati kalau harus menanggung aib ini sendiri.
Akhirnya aku berhasil. Orangtua Fabio percaya dengan segala ocehanku. Dan mereka berjanji akan menikahkan kami setelah Ujian nasional, dai itu berarti kurang dari sebullan lagi. Oh, indahnya. Aku terlelap dengan lamunan indah tentang hari hari yang akan datang. Hari-hari yang penuh cinta dari Fabio.

Minggu pagi yang cerah, aku sdang mempersiapkan diri untuk pergi ke rumah Fabio. Aku menatap diriku di cermin.” I look great” gumamku puas atas penampilanku sendiri. Pasti Fabio akan sangat senag melihat kehadirannku. Setelah semua apa yang ia alami di sekolah, dijadikan bahan pergunjingan, dijauhi semua cewek, pasti dia sangat down. Dan aku? Pasti akan menjadi hero untuknya. Aku harus menghiur dan menenangkan hatinya. Oh my Love, Im coming....
Sudah hampir jam sepuluh pagi ketika aku sampai di rumahnya. Pintu pagarnya terbuka sehingga tanpa membunyikan bel pintu aku bisa dengan leluasa memasuki pekarangan rumahnya. Di teras sepi, tak ada siapa-siapa. Pintu rumahnya sedikit terbuka. Akju sudah membuka mulut untuk mengucapkan selamat pagi, tapi mulutku yang sudah terbuka tak mampu mengeluarkan suara. Bahkan semakin ternganga dengan pemandangan di ruang tamu. Di sana ada Sheilla yang sedang menangis di pelukan Fabio. Tangan Fabio membelai lembut rambut Sheilla. Mereka tidak menyadari kehadiranku.
Dengan tenang aku menyapa dan berusaha menguasai gejolak emosiku dan melangkah memasuki ruangan. Aku meraih benda yang selalu aku siapkan di tasku.
”Sheilla, ” gertakku tak sanggup menahan diri lagi
”Mungkin hanya ini yang akan menjjauhkan kamu dari Fabyku,” lanjutku sambil mengacungkan sebilah pisau ke atas. Karena terlambat menyadari kehadirannku, secara reflek Fabio melindungi Sheilla dengan berdiri di depan Sheilla dengan tangan merrentang menghalangi seranganku.
:Khaty, What The hell are you doing?” Tanya Fabio.
“Aku akan lakukan apa yang harus aku lakukan. Kalau pisau ini bisa membuktikan betapi aku mencintaimu, betapa setiap malam aku memimpikannmu, maka pisau ini akan menjadi saksi.
Sheilla masih terlihat gemetar di belakang fabio. Wajahnya pucat pasi.
Masih sambil mengacungkan pisau di tanganku, aku mendekati mereka berdua. Puas rasanya meliat pias wajah Si Sheilla itu.
” Khaty, plaese, dont do this”, kata Fabio dengan suara yang lemah.
”Cinta itu adalah sesuatu yang suci. Dia akan hadir tanpa bisa dipaksa. Cinta itu tumbuh sendiri dari hati, bukan dari...”
Belum selesai Fabio bicara, aku menyergap dan memotongnya dengan kemarahan yang semakin menggelora.
”Tidak faby, Kamu yang harus mendengarkan aku. Aku yang lebih dulu merapakan hatiku padamu, bukan Sheila. Tidakkah kamu lihar begitu besar menyala api cinta di mataku? Aku bersedia melakukan apa saja. Aku akan menjadi budakmu. Seribu kalimat tak akan mampu mewakili rasa cintaku padamu. Seandainya nyawaku kamu minta sebagi buktinya? Aku akan berikan.
Aku menggoreskan pisau di pergelangan tanganku sambil tersenyuim. Darah yang mengalir deras membuatku terhuyung-huyung. Tetes demi tetes darah ini Fabio, tak cukupkah sebagai bukti? Bhawa I Love You more than anything else in the world”.
Aku tersungkur. Kegelapan membuka sebuah kebahagiaan. Dalam bentuk slurt buram, aku melihat ayah dan ibuku berpelukan. Sempurna sudah apa yang aku inginkan.

Diselesaikan Feb 2009
Langita Awani sebuah Nama Pena

29 Januari 2009

BLESSING IN DISGUISE

DALAM SERTIFIKAT SEMINAR PENDIDIKAN

DI IPB BOGOR

Seminar semakin menjamur, dan sifat jamur adalah menyebar, menular…. Tapi mudah-mudahan hanya tuduhan buruk yang tak beralasan saja. Karena selain alasan mencari profit masih ada banyak alasan lain yang lebih etis dan terhormat untuk dijadikan latar belakang diadakannya seminar pendidikan tingkat nasional ini oleh Yayasan Pandu Pendidikan Indonesia. Di Era sertifikasi ini seminar (sertifikatnya) merupakan bagian dari penilaian portofolio guru. Adalah sangat wajar dan manusiawi dan perlu dihargai apabila guru rajin mengikuti seminar akhir-akhir ini, terutama seminar tentang pendidikan yang sesuai dengan bidang yang digeluti. Masih banyak sisi positif yang bisa diambil sebagai efek domino dari keresahan pemerintah untuk memotivasi para guru dalam berprestasi maupun dalam peningkatan kinerjanya. Seminar pendidikan, apalagi skala nasional sungguh menggiurkan nilai kreditnya dalam penghitungan fortofolio, perkara hasil seminar itu mempunyai efek yang permanen atau tidak bagi penguasaan kompetensi dan wawasan guru itu perkara nomor dua. Akan tetapi nomor dua itulah yang sesungguhnya harus menjadi blessing in disguisenya sertifikat seminar. Bahwa peningkatan mutu guru, kompetensi guru, wawasan guru tentang pendidikan dalam skala makro maupun mikro sungguh suatu idealisme yang harus dicari realitasnya.

Rasanya tak diragukan lagi bahwa kompetensi guru sangat berpengaruh terhadap output pendidikan pada umumnya. Banyak skripsi dan tesis yang membuktikan bahwa kompetensi guru mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar siswa. Pemerintah sendiri sudah cukup tanggap dengan fakta tersebut, sehingga sertifikasi diambil sebagai salah satu jalan peningkatan mutu dan kesejahteraan guru diambil sebagai langkah mercusuar yang membuat guru berbondong-bondong untuk meningkatkan kompetensinya dengan bukti fisik sertifikat seminar. Sertifikat yang penulis takut akan kehilangan makna karena diboncengi oleh niat sampingan. Namun lepas dari semua itu semua pihak tetap berharap bahwa semua sertifikat itu mempunyai hubungan yang signifikan dengan kompetensi si pemiliknya. Insya Allah.

Seminar yang dilaksanakan di kampus IPB Bogor, hari Minggu, tanggal 28 Desember 2008 ini dihadiri oleh kurang lebih 1000 guru. Seperti yang dilakukan oleh panitia seminar yang lain, seminar ini juga latah dan ”terpaksa” menghadirkan keynote speaker dan narasumber yang tidak sesuai dengan nama-nama yang tersebut dalam undangan seminar. Seminar yang tadinya menyatakan bahwa Mendiknas, Kadis Kab Bogor, Bupati Bogor, Pakar pendidikan Arif Rahman, Fuad Bawasir dan nama-nama pejabat wakil birokrat akan hadir sebagai pembicara, akhirnya tak satupun nongol di ruang seminar. Sebenarnya hal tersebut tak seharusnya terjadi karena bisa bisa para peserta menilai panitia telah melakukan pembohongan publik mengingat seminar ini tidak gratis alias bayar investasi sejumlah seratus ribu rupiah.

Tapi rupanya hal tersebut tak menyurutkan semangat guru untuk menuntut ilmu, dalam seminar yang bertema ”Implementasi kebijakan anggaran Pendidikan Pusat dan Daerah minimal 20% untuk meningkatkan kesejahteraan guru dan Dosen” ini. Apalagi ketidakberhasilan panitia dalam menghadirkan pembicara itu sudah diakali dengan pembukaan acara yang sangat menggebu dan persuasif serta permintaan maaf dari panitia yang setulus-tulusnya kepada para peserta. Guru adalah jiwa jiwa yang penuh dengan ketulusan, karena dinomorduakan sudah menjadi hal yang dihadapi oleh para guru, maka tingkat permakluman yang tinggi dari para guru diharapkan menjadi indikator bahwa kompetensi personal atau kepribadian guru sudah mencapai tingkat ideal.

Selain itu kekecewaan para peserta seminar sangat terobati oleh kehadiran Ketua PGRI Kabupaten Bogor, Dr. Gada sembada, dan kehadiran Sang Surya, Bapaknya para guru, yaitu Bapak Prof Dr. H. Muhamad Surya, yang juga menyatakan protes halus terhadap panitia bahwa namanya juga tidak tercantum di dalam undangan seminar. Menurut pengakuan beliau, beliau hadir karena beliau tahu akan berhadapan dengan para guru yang merupakan rekan seprofesi, senasib dan sepenanggungan, yang notabene adalah anggota organisasi PGRI yang pernah beliau pimpin. Walaupun tidak terlalu lama berbicara, tapi beliau cukup menggugah motivasi guru yang selama ini tak pernah ada pencerahan sedikitpun. Bahwa guru adalah sebuah profesi terhormat, bahwa guru bukan pahlawan tanda jasa, bahwa guru harus senantiasa meningkatkan profesionalismenya selalu dan terus menerus. Guru, bukan profesi yang murahan dan dapat diakukan oleh siapa saja tapi hanya dapat dilakukan oleh orang yang mempunyai skill khusus di bidang pedagogik, profesional secara keilmuan, ideal secara personal dan maksimal social sense nya.

Pembicara yang kedua juga merupakan ban serep (meminjam istilah pak Surya) dari perwakilan pengurus besar PGRI yang menyampaikan peran serta PGRI dalam mewujudkan realisasi anggaran pendidikan 20%. Guru yang pada dasarnya adalah anggota PGRI juga antusias mengikuti penuturan narasumber karena PGRI bukan sesuatu yang lain, Bukan dunia fantasi, bukan dunia lain juga bukan dunia dalam berita (lagi-lagi meminjam jokenya pak H.M. Surya) tetapi PGRI adalah darah para guru, organisasi yang meneriakkan dan merepresentasikan nasib dan aspirasi guru. Sehingga tak satupun protes keluar dari mulut para guru karena tidak hadirnya narasumber yang dihadirkan karena dada para guru yang berada di Aula Graha Widia Wisuda IPB tersbut sudah dipenuhi rasa haru, bangga dan penghargaan yang sebesar-besarnya atas perjuangan PGRI dalam mewujudkan realisasi anggaran pendidikan sesuai Undang Undang Dasar 1945, dengan mengadakan Yudicial Review terhadap pemerintah yang menghasilkan kemenangan. Hidup PGRI.

Kinerja panitia lagi-lagi berlumur dengan ketidakprofesionalan dalam acara break makan siang. Konsumsi yang disediakan oleh panitia tidak mencukupi karena alasan yang sangat memprihatinkan, yaitu nasinya belum datang dari catering, Hello...? Mengurus ratusan peserta bukan sesuatu yang mudah memang. Tapi seharusnya hal ini sudah diantisipasi oleh panitia, bahwa seminar nasional akan dihadiri oleh ratusan guru, maka antrian pendaftaran, makan siang dan pengambilan sertifikat merupakan moment yang perlu diakali dan dicari langkah yang paling efektif dan efisien. Lunch Box yang mencukupi saja belum menjamin ketertiban dalam pembagiannya, apalagi Lunch boxnya belum datang.... Hello IPB, Hello Panitia, Hello yayasan pandu pendidikan.....Where have you been?

Tapi perlu dicatat sekali lagi, bahwa guru sudah punya kedewasaan emosional dan intelektual yang ideal, jadi hal hal kecil terebut bukan hal yang penting untuk dijadikan sebagai hal yang perlu digerutukan sepanjang jalan. Guru tetap pulang dengan spirit organisasi yang kental serta semangat tinggi untuk mengabdi, semangat si Oemar Bakri yang kerap terpinggirkan oleh situasi dan kondisi. Guru pulang bawa sertifikat yang merupakan bukti fisik laporan portofolio guru dalam sertifikasi. Amboi, indah sekali janji pemerintah dalam sertifikasi yang semakin terulur dan tertunda realisasinya. Kuota? Dana tak ada? Atau political will dan political commitment yang tidak ada? Apabila anggaran 20% masih termasuk kompensasi untuk gaji dan kesra guru, mau kemana pendidikan kita?

Jawabnya adalah kemana saja sesuai dengan kaki guru melangkah..................................

Oemar Bakri...Oemar Bakri.. senandung para guru.

13 November 2008

INTROSPEKSI

Menatap wajah wajah haus dengan tatap harap
Tertata sebuah mimpi memandu dedikasi
Atas nama pendidikan celoteh seorang guru
Ketika menampar pipi anak didiknya
Atas nama ilmu alibi seorang guru
Ketika mewajibkan siswanya untuk membeli buku

Betapa bunga bermekaran
Masih banyak guru yang meniti introspeksi
Melangkah pelan tapi pasti
Memenggal kode etik
Membakar akar pembelajaran aktif
Memetik hasil evaluasi
Alangkah indahnya…

Namun,
Atas nama apa ketika kelas begitu banyak yang terbengkalai?
Atas nama apa ketika guru selalu terlambat memasuki kelas?
Atas nama ketika guru begitu mudah memark up nilai?
Lalu atas nama apa
Ketika guru segera meninggalkan kelas tanpa bekas?
Tanpa menoleh kembali
Adakah yang belum terpenuhi?
Lalu atas nama Apa
Aku sendiri malu untuk menyebutkannya.


BERHALA ITU BERNAMA SERTIFIKASI


Hai kawan,
Tahukah kau ada berhala baru abad ini?
Semua sibuk menyembahnya?
Seolah-olah ia Tuhan baru yang begitu sempurna tercipta
Penuh janji untuk memenuhi harap hati
Penuh harapan untuk mencapai sebuah angan

Ah, ….
Menderas makin gerimis mataku
Pilu menatap para guru


Lalu, mau dikemanakan negeri ini kalau guru sibuk fotokopi?
Merenda merekayasa dan mencoba meraih mimpi
Meletakkan nilai-nilai kejujuran jauh di lubuk hati
Mencoba menipu diri

Lalu,
Terbang kemana nasihat mulia untuk para siswa
“Jangan nyontek anakku,
Jujurlah pada dirimu
Punyalah rasa malu
Jangan penah berbangga, akan nilai yang sesungguhnya tak ada”

Pedang seolah menghujam dalam dada
Kejujuran profesional sudah tak ada
Haus sejahtera seolah alibi yang tak bisa dipungkiri
Dalam gerimis airmata
Portofolio kau dekap dalam dada

Gemetar tangan menggenggam mimpi
Kapan aku akan mendapat tunjangan profesi
Seolah dengan itu semua hutang lunas
Semua mimpi tergali
Semua rindu terpadu

Di lain arena
Para oportunis segera memanfaatkan situasi
Menangkap dengan jeli peluang untuk mengeruk rizki
Seminar, diklat. Workshop, Tingkat lokal, nasional dan internasional
Menjamur, meyebar bak virus angkara murka
Mengikat nurani memasungnya dalam jerat
Kejujuran membuat hancur
Kecerdasan adalah menghalalkan semua cara
Portofolio sekedar imitasi
Gerimis airmata ini

31 Agustus 2008

STRATEGI PEMBELAJARAN EKSPOSITORI

1. Konsep
Strategi Pembelajaran Ekspositori adalah strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi pelajaran secara optimal. Istilah lain : direct instruction, chalk and talk..
2. Karakteristik:
a. verbal/lisan
b. materi sudah jadi seperti data atau konsep atau fakta-fakta tertentu.
c. Tujuan utama siswa menguasai materi pelajaran itu sendiri
3. Strategi ini bisa digunakan apabila:
a. Guru akan menyampaikan bahan-bahan baru serta kaitannya dengan yang akan dan harus dipelajari siswa (overview)
b. Guru menginginkan agar siswa mempunyai gaya model intelektual tertentu, Mis. Supaya siswa hafal urutan pembuatan kain batik
c. Jika bahan yang akan diajarkan cocok untuk dipresentasikan
d. Jika ingin membangkitkan keingintahuan siswa entang topik tertentu
e. Guru menginginkan untuk mendemostrasikan suatu teknik atau prosedur tertentu untuk kegiatan praktik.
f. Apabila siswa mempunyai kesulitan yang sama sehingga guru perlu menjelaskan untuk seluruh siswa.
g. Apabila guru ingin mengajarkan pada sekelompok siswa yang mempunyai kemampuan yang rendah
h. Jika lingkungan tidak mendukung untuk menggunakan strategi yang berpusat pada siswa
i. Jika guru tidak memiliki waktu yang cukup untuk menggunakan pendekatan yang berpusat pada siswa.
4. Prinsip-prinsip penggunaan SPE:
a. Berorientasi pada tujuan
b. Prinsip komunikasi
c. Prinsip kesiapan
d. Prinsip keberlanjutan
5. Prosedur Pelaksanaan SPE:
a. Merumuskan tujuan yang ingin dicapai
b. Mengasai materi pelajaran dengan baik
c. Mengenali medan dan berbagai hal yang dapat mempenagruhi proses penyampaian
6. Langkah-langkah penerapan SPE:
a. Persiapan (preparation)
Tujuan persiapan:
• Mengajak siswa keluar dari kondisi mental yang pasif
• Membangkitkan motivasi dan minat belajar siswa
• Merangsang dan menggugah rasa ingin tahu siswa
• Menciptakan suasana dan iklim pembelajaran yang terbuka
Langkah-langkah persiapan:
• Berikan sugesti positif dan hindari sugesti yang negative
• Sampaikan tujuan pembelajaran pada siswa
• Bukalah file dalam otak siswa
b. Penyajian (presentation)
• Hal yang perlu diperhatikan
• Penggunaan bahasa
• Intonasi suara
• Kontak mata
• Joke yang menyegarkan/intermezzo
c. Korelasi (correlation)
Menghubungkan pelajaran dengan pengalaman siswa atau dengan hal lain yang memungkinkan siswa dapat menangkap keterkaitannya dengan struktur pengetahuan yang telah dimilikinya.
d. Menyimpulkan
Tahapan untuk memahami inti (core) dari materi pelajaran yang telah disajikan
Cara menyimpulkan:
• Mengulang kembali inti-inti materi yang menjadi pokok persoalan
• Memberikan pertanyaan yang relevan
• Dengan Maping melalui pemetaan keterkaitan antarmateri.
e. Mengaplikasi (application)
Merupakan langkah untuk unjuk kemampuan siswa setelah mereka menyimak penjelasan guru.
Teknik yang digunakan:
• Membuat tugas yang relevan
• Memberikan tes yang relevan
7. Keunggulan SPE:
a. Guru bisa mengontrol urutan dan keluasan materi pembelajaran
b. Efektif apabila materi cukup luas, tapi waktu terbatas
c. Selain mendengar melalui penuturan siswa juga bisa melihat/mengobservasi (melalui pelaksanaan demonstrasi)
d. Bisa digunakan untuk jumlah siswa dan ukuran kelas yang besar

8. Kelemahan SPE:
a. Hanya bisa digunakan untuk siswa yang memiliki kemampuan mendengar dan menyimak secara baik
b. Tidak bisa melayani perbedaan individu baik perbedaan kemampuan, pengetahuan, minat, bakat, serta perbedaan gaya belajar
c. Sulit mengembangkan kemampuan siswa dalam hal kemampuan sosialisasi, hubungan interpersonal, serta kemampuan berpikir kritis.
d. Keberhasilan SPE sangat tergantung dengan guru (persiapan, pengetahuan, rasa percaya diri, semangat, antusiasme, motivasi dan kemampuan bertutur serta kemampuan mengelola kelas.
e. Kesempatan untuk mengontrol kemampuan siswa terbatas karena bersifat oneway communication.

Sumber :
Dr. Wina Sanjaya, M. Pd
Stratetegi Pembelajaran (berorientasi Standar Proses Pendidikan)
KONSEP WACANA

I. PENDAHULUAN
Dalam kenyataannya kita memakai bahasa tidak semata-mata sebagai alat untuk komunikasi. Dengan demikian bahasa tidak dipandang sebagai alat untuk komunikasi manusia, yang diperinci dalam bentuk bunyinya, rasanya, ataupun kalimatnya secara terpisah-pisah. Manusia memakai bahasa dalam wujud kalimat yang saling berkaitan. Kalimat yang pertama menuntut timbulnya kalimat yang kedua dan kalimat yang kedua menjadi acuan kalimat ketiga, kalimat ketiga mengacu pada kalimat yang pertama, dan seterusnya.
II. PEMBAHASAN
A. Definisi Wacana
Sebelum membahas lebih jauh tentang wacana, terlebih dahulu kita harus mengetahui definisinya. Ada beberapa definisi tentang wacana, antara lain :
1) Wacana sering disebut demean discourse, yang berasal dari bahasa latin discursus yng berarti lari kian kemari. Discourse diturunkan dari ‘dis’ yang artinya ‘dari’, dalam arah yang berbeda, dan ‘curere’ yang berarti ‘lari’.
2) Wacana meliputi :
Komunikkasi pikran demean kata-kata, ekspresi ide-ide atau gagasan, konversasi atau percakapan
Komunikasi secara umum. Terutama sebagai suatu subjek studi atau pokok telaah
Risalat tulis, disertasi formal, kuliah, ceramah, khotbah. (Tarigan, 1987: 23).
3) Menurut Brown , melalui wacana kita dapat saling :
 Menyapa, menegur
 Meminta, memohon
 Menyetujuai, menyepakati
 Bertanya, meminta keterangan
 Meyakinkan
 Menyuruh , memrintah
 Mengkritik, mengomentari
 Memaafkan, mengampuni (Tarigan, 1987:24)
4) Wacana adalah satuan bahasa terlengkap, realisasinya tampak pada bentuk karangan yang utuh, seperti novel, buku, artikel. (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
5) Wacana adalah rentetan kalimat yang berkaitan yang menhubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lain yang membentuk satu kesatuan. (Depdikbud, 1988:334)
Jadi wacana adalah rangkaian kata-kata yang saling berulang dan saling berkaitan secara padu antara yang satu dengan yang lainnya yang membentuk satu kesatuan yang utuh.
B. Struktur Wacana
Struktur Wacana Meliputi:
 Pengirim
 Pesan
 Penerima
Salah satu struktur dari wacana tersebut adalah pesan. Pesan diwujudkan melalui bahasa, sedangkan bahasa itu belum tentu dapat terpahami oleh penerima pesan. Untuk memahaminya maka dibutuhkan konteks.
C. Batasan Konteks dan Koteks
Konteks adalah teks yang menyertai teks. Pengertian hal yang menyertai teks itu meliputi tidak hanya yang dilisankan atau dituliskan (koteks), melainkan termasuk kejadian-kejadian yang nirkata (nonlinguistic) lainnya, atau keseluruhan lingkungan teks itu.
Secara singkat konteks adalah semua situasi yang berada di sekitar pemakaian bahasa atau non lingual yang mendukung makna suatu wacana.
Menurut Malinowsky, yang disempurnakan oleh Firth, konteks dibedakan menjadi dua, yaitu:


1. konteks situasi
Konteks situasi meliputi:
a. Pelibat (partisipan)
b. Tindakan pelibat, hal-hal yang sedang mereka lakukan baik verbal action, maupun nonverbal action.
c. Ciri-ciri situasi lain yang relevan, benda-benda dan kejadian-kejadian sekitar sepanjang hal itu bersangkut paut tertentu demean hal yang sedang berlangsung
d. Dampak-dampak tindakan tutur, bentuk-bentuk perubahan yang ditimbulkan oleh hal-hal yang dituturkan oleh pelibat dalam situasi
2. Konteks budaya
Konteks budaya meliputi:
a. Pelibat (partisipan)
b. Tindakan pelibat, hal-hal yang sedang mereka lakukan baik verbal maupun nonverbal
c. Ciri-ciri budaya yang ada pada daerah terjadinya komunkasi
d. Dampak-dampak tindakan tutur yang ditimbulkan oleh hal-hal yang dituturkan oleh pelibat dalam kebudayaan tertentu
Komponen konteks meliputi:
a. Pembicara
b. Pendengar
c. Tempat/budaya
d. Waktu
e. Situasi
Peranan Konteks:
a. Mendukung dan memperjelas makna yang tidak dapat dijangkau atau diterangkan secara semantic
b. Menyatukan persepsi antara pembicara demean mitra bicara


KOTEKS
Koteks adalah semua unsur kebahasaan atau linguistik yang berperanan dalam menentukan makna sebuah wacana. Peranan koteks dalan sebuah wacana adalah mendukung atau memperjelas makna.
Contoh:
1) Terlihat seorang perempuan dan seorang laki-laki di rumah depan
2) Perempuan itu membaca buku dan tampak gembira, sedangkan laki-laki itu kelihatan resah dan berdiri di dekat jendela.
Kiranya tidak perlu diragukan lagi bahwa perempuan itu pada kalimat kedua mengacu pada perempuan yang sedang membaca buku di ruang depan. Adapun laki-laki yang terdapat dalam kalimat satu, mengacu pada seorang laki-laki yang kelihatan resah dan berdiri dekat jendela yang terdapat dalam kalimat nomor dua.

III. PENUTUP
Dari pembahasan di atas dapat kita tarik kesimpulan, yaitu:
1. Wacana adalah rangkaian kata-kata yang saling berulang dan saling berkaitan secara padu antara yang satu demean yang lain lainnya yang membentuk satu kesatuan yang utuh.
2. Konteks adalah semua situasi yang berada di sekitar pemakaian bahasa atau nonlingul yang mendukung makna suatu wacana.
3. Koteks adalah semua unsur kebahasaan (linguistik) yang berperanan dalam menentukan makna sebuah wacana.

DAFTAR PUSTAKA
Depdikbud. 1988. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Depdikbud. 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka
M.A.K., Halliday dan Ruqaiya Hasan. 1992. Bahasa, Konteks, dan Teks : Aspek-Aspek Bahasa dalam Pandangan semiotic Sosial. Yogyakarta: Gajah Mada Univesity Press.
Tarigan, Henry Guntur. 1987. Pengajaran Wacana. Bandung:
Angkasa.
Pertempuran Mimpi

Waktu benar-benar berjalan bahkan berlari. Mendampingiku, mendorongku, bahkan melecutku supaya semakin cepat berlari. Tapi kadang juga meninggalkaku terlalu jauh di belakang karena aku terlalu sibuk dengan mimpi-mimpi tanpa realisasi. Aku terperangkap dalam penjara tanya yang kadang bisa lengkap kujawab sendiri, tapi kadang menyisakan kabut yang tak pernah jelas terbaca hati.
Aku... tertengah engah mengatur hari
Menyiapkan senjata entah mau perang dengan siapa
Mengasah belati tak kunjung tajam tak kunjung puas hati
Pertempuran yang selalu menggayut asa
Kapan semua kan menjadi nyata