03 Juni 2008

BIARKAN AIRMATA INI MENJADI SAKSI

Tak terasa

Jalinan cerita telah begitu panjang terbentang

Menggoreskan rasa yang tak mungkin kuungkap dengan kata

Rasa ingin terus bersama

Untuk mengisi hari dan membuat cerita

Bunda,

Sebuah lagu rindu akan terus mengalir

Menggemakan rasa sayang yang tak berkesudahan

Mematri kalbu untuk terus mengenangmu

Tak terhitung teguran dan bentakan

Tak hanya secuil kisah pembelajaran

Membekas di hati menyisakan mimpi

Rasa kagum yang mengabadi

Menjadi senyuman yang kan menghiasi nurani

Sampai ajal menjemput nanti

Bunda,

Bila pernah terjalin cerita

Dimana ego dan amarah membahana

Maka biarkan waktu yang akan menghapus semua

Bila pernah terukir senyum dan tawa

Maka biarkan alam yang akan mengabadikannya

Menjadi sebuah episode cerita

Yang tak kan pernah habis kehilangan makna

Bunda,

Biarkan air ini menjadi saksi

Betapa rasa cinta kami

Biarkan air mata ini menjadi saksi

Betapa berat rasa hati kami untuk melepas engkau pergi

Untuk Dra Rosmaini Ginting, M. Si

Ditulis ketika rasa tak mau kehilangan itu mengharubiru

CERMIN RETAK

Sulit rasanya untuk menceritakan sesuatu yang hanya bisa kita rasakan dalam hati. Menggambarkannya pada orang lain dengan jujur tanpa harus menambah dan mengurangi, sehingga mereka benar-benar bisa merasakan dan memahami apa yang sebenarnya terjadi tanpa ada prasangka akan subyektivitas kita dalam bercerita. Tapi walau bagaimanapun patut rasanya untuk dicoba. Hasilnya memuaskan atau tidak itu terserah anda.

Seorang teman sekaligus tetangga, sebut saja Bu Ghalina. Bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan swasta. Suaminya adalah seorang guru. Penampilan fisik Bu Ghalina ini cukup menarik, perawakan sedang dan memakai jilbab setiap hari sebagai tanda iman yang terpancar dari caranya berbusana. Tutur katanya halus dan jarang terlihat emosi spontan yang pernah ia perlihatkan pada umum. Tak sekalipun kata-kata kasar keluar dari mulutnya Mereka sekeluarga tak banyak bergaul dengan tetangga. Tapi punya reputasi yang cukup baik di lingkungan sekitarnya. Tapi entah mengapa ada rasa gamang menyelinap di hati. Benarkah ia sesopan dan sealim penampilannya. Aku kurang tahu masalah agama tapi tidak juga berarti buta sama sekali. Ada beberapa respon sosialnya yang menurutku terlalu mengelabui dan membuat hatiku bertanya-tanya. Mudah-mudahan cerita ini juga bukan sebagai curahan hatiku yang penuh subyektivitas. Hanya sebagai cara berbagi dengan harapan bisa terpetik sebuah sari yang bisa menjadi pelajaran diri.

Masih lekat di dalam ingatan, sebuah kalimat yang muncul dari mulutnya yang halus. ”Wajar Bu, dia terkena guna-guna seperti itu . Soalnya dia kan tidak pernah sholat. Jadi sulit untuk menghindar dari hal-hal Ghaib seperti itu. Istilahnya dia ngga ada pertahan. Bukan apa-apa lho bu, tapi menurut saya memang begitu keadaannya”. Ketika itu ada dari salah satu rekan kami yang sedang sakit, yang entah bagaimana ceritanya, gosip yang tersebar adalah si rekan ini tadi terkena guna-guna, bahwa penyakit yang dideritanya bukan penyakit medis. Rasa prihatin yang mewarnai obrolan kami waktu itu kurasa memudar tiba-tiba dengan kalimat Bu Ghalina. Kalaupun apa yang dibicarakannya benar, bukankah yang berhak menilai ibadah seseorang itu hanya yang Kuasa. Aku merinding mendengarnya. Lewat pembicaraan itu aku malu sama Allah, bukankah sholatku juga kadang-kadang tak bermutu. Kurang khusu’ atau tidak sama sekali. Bahkan seringkali hanya gerak badan simbolik minus makna, karena dalam lafal Al fatihah yang kubaca yang muncul hanya pikran-pikiranku mengenai masalah di dunia. Astaghfirullah. Lalu akan pergi kemana aku dengan sholat yang begitu tak bermutu?.

Menurut Bu Ghalina semua dosa pasti akan dibalas oleh Allah, sehingga setiap ada musibah yang menimpa sahabat, yang dia kemukakan ”Mungkin itu adalah dosanya, kurang amal sih, jadi kemalingan deh tuh, rasain akhirnya Allah mengambil juga dengan paksa, Makanya Bu, jangan pernah lupa sodaqoh dan berinfaq, supaya kita jauh dari kejadian yang dialami oleh si Parti”, katanya berapi-api seolah ustadzah yang sedang ceramah. Sekali lagi aku bergidik. Selama ini aku selalu pelit. Bukan berarti aku tidak mau beramal, tapi aku masih merasa kekurangan untuk memenuhi kebutuhanku sendiri. Tuhan, beri aku ampunan. Kapan aku beramal kalau aku harus menunggu berlebih. Manusia tak akan pernah puas. Tak pernah mencapai puncak. Selalu muncul puncak puncak yang lebih tinggi ketika kita meraih satu puncak tertentu. Ah, harusnya aku mulai berbagi. Lebih dari sekedar senyum dan amal amal kecil yang keberikan pada para peminta dana. Itupan hanya recehan yang tak ada harganya. Kalau bukan karena Bu Ghalina aku mungkin tak akan pernah ingat bahwa sesungguhnya hartaku yang sebenarnya adalah yang aku berikan pada mereka yang papa. Dalam hati, aku bertanya ”Apakah Bu Ghalina juga selalu bermurah hati dan berbagi rezeki dengan siapa saja? Alangkah bahagianya dia, dikaruniahi harta yang berlimpah sehingg bisa membaginya dengan orang-orang yang membutuhkannya.

Banyak dari kata-kata Bu Ghalina yang membuat aku bercermin dan berusaha mencoba untuk introspeksi diri. Sudahkan aku menjadi baik seperti apa yang dikatakannya? Pernah suatu saat ada rekan yang sedang mendapat rezeki. Dia berusaha membagi rezeki yang dia peroleh dengan cara mentraktir rekan-rekan kami makan di kantin. Satu persatu si rekan ini bertanya pada setiap orang, mau pesan makanan apa dari kantin. Tawaran itu juga diberikan pada Bu Ghalina yang baru saja memasuki ruangan. ”Bu Ghalina mau pesan apa?” tanya si pembagi rezeki dengan bahagia. Bu Ghalina menjawab, ”Eh, tunggu dari uang apa?” tanyanya menyelidik. Si rekan menjawab tanpa prasangaka, ”Ada deh”. Masih dengan wajah menyelidik,” Uang apa dulu?” Ngga mau saya makan dari uang yang tidak jelas dari mana datangnya. Untung si rekan ini punya sense of humor yang bisa diacungi jempol. Dengan santai dia menjawab, ” Oh, tenang, uang halal kok”. Percakapan singkat yang sebenernya aku tak ikut terlibat langsung, tapi cukup membuat aku bergetar. Sanggupkah aku mengajukan pertanyaan yang sama dengan yang ditanyakan oleh Bu Ghalina tadi kepada setiap orang yang menawari aku makan? Mungkin maksudnya untuk menjaga diri dari masuknya makanan haram ke dalam aliran darahnya. Etika sosialku menolak vulgarnya cara untuk menunjukkan bahwa kita beriman. Apakah kita harus berusaha memberitahukan kepada orang lain bahwa kita beriman, dan selalu memakan makanan bersih dan halal. Aku iri pada si rekan yang sanggup menanggapi tanya yang cukup riskan . Aku iri juga pada Bu Ghalina yang begitu kukuh dan siaga supaya tak masuk makanan semabarang ke dalam aliran darahnya. Aku bertanya pada Allah, Apakah aku cukup pantas untuk mengaku sebagai makhlukMu? Apakah aku cukup pantas menjadi umatmu yang baginda Rasululah. Terimakasih Ya rabb, Kau telah mengingatkan aku lewat percakapan sederhana mereka.

Aku tak henti-hentinya bersyukur pada Allah mempuyai teman seperti Bu Ghalina. Di sebuah pagi yang mendung, kebetulan kami bersama sama naik kendaraan umum menuju tempat kami bekerja. Dalam guncangan kendaraan butut yang ditambah dengan kondisi jalan yang memprihatinkan, Bu Ghalina memulai ceritanya, ”Eh, tadi saya malam takut banget. Anginnya kencang sekali, sampai-sampi tiang besi lapangan bulu tangkis yang ada di depan rumah saya bergoyang-goyang, miring kiri-miring kanan. Pokoknya ngeri.” Aku yang memang tidak tahu bahwa semalam terjadi angin kencang menjawab dengan santai, ” Oh Iya Bu, aduh semalam saya tidur sih, saking nyenyaknya sampai ngga kedengeran tuh. Emang jam berapa?’. Bu Ghalina menjawab dengan volume suara yang didengar oleh semua orang yang naik kendaraan umum itu. ” Jam dua malam Bu, waktu itu aku sedang sholat tahajud, makanya saya keluar sebentar untuk melihat keadaan”. Nah Lho? Rasa bertanyaku dalam hati, mengapa dia harus bercerita seperti itu di depan umum, serasa memenuhi dada. Bukankah itu Riya’ namanya. Apalagi?. Tapi Astaghfirullah aku segera mengganti pertanyaan itu dengan rasa syukur. Oh iya, sudah lama aku tidak menunaikan sholat tahajud. Apalagi semalam?. Bukankah angin kencang yang di bilang semalam akan berbahaya kalau menjadi angin badai. Dan itu berarti aku akan kurang berantisipasi kalau tidak dalam keadaan terjaga. Itu berarti aku akan tergolek menghadapi maut dalam keadaan yang tidur lelap dibuai mimpi. Tak seperti Bu Ghalina. Dia sedang dalam sholat malamnya. Untunglah kejadiannya tidak demikian. Dan aku? Tidak salah rasanya apabila merasa iri dan tersaingi oleh bu Ghalina karena rajin ibadahnya. Tak apa, Aku mensyukurinya dalam hati. Bukanlah Sang Nabi menganjurkan supaya kita berlomba-lomba dalam kebaikan. Ah... Aku juga harus rajin sholat tahajud. Insya Allah.

Memang kuakui bahwa setiap orang punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tapi kalau kita menggunakan kelemahan orang lain agar tidak menjadi kelemahan kita sendiri merupakan usaha yang pantas dipertahankan. Kelemahan yang paling membuat merinding bulu roma adalah penyakit hati. Penyakit nonmedis ini juga sulit untuk dicari obatnya. Semoga tak pernah berani penyakit itu bersarang dalam hatiku. Naudzubillah. Kembali aku mendapatkan pelajaran dari Bi Ghalina dalam hal ini. Setiap ada rekan kerja yang mendapat rezeki yang besar, seperti membangun rumah atau membeli mobil dan sebagainya.Ada saja komentar miring yang keluar dari mulutnya. ”Kita kan sama-sama pegawai biasa. Kita saling tahu gaji kita masing-masing, darimana kali dapat uang buat bikin rumah gedung dan mobil mewah. Korupsi kali, Astaghfirullhalazim, jahat sekali saya ya, menuduh orang lain korupsi, tapi bukan apa apa sih, memang begitu kali. Gaji kita sebagai pegawai berapa sih? Semua orang juga tau.”

Tak ada secuilpun rasa turut bahagia ketika orang lain mendapat berkah dariNya. The negatif thingkingnya, bahwa semua orang salah, hanya dia sendiri yang benar. Semua orang banyak dosa kecuali dia sendiri yang suci. Semua orang makan uang haram, kecuali dia sendiri yang mendapat rezeki yang penuh berkah dan rahmat dari Allah.

Aku mengeluh dalam hati. Jangankan sampai terucap, menuduh dalam hatipun sudah merupakan hal yang tak dibolehkan oleh sang Nabi. Ya Tuhan, terimakasih telah Kau beri aku peringatan.

Entah mengapa aku merasa perlu berhati-hati bicara dan bergaul dengan Bu Ghalina. Tutur katanya yang manis kadang-kadang seperti menipu. Penampilan yang alim dan perhatian serta penuh simpati pada musibah yang diterima oleh orang lain terlihat begitu meragukan. Begitu ingin di perlihatkan pada orang lain. Seolah-olah ingin menunjukkan pada semua orang bahwa dia adalah sang sosialis yang penuh iba pada orang lain. Aku jadi teringat pada ajaran Sang Rosul. Jika tangan kananmu memberi, Jangan sampai tangan kirimu mengetahui. Ya Rosulku…. Aku begitu takut kalau-kalau aku setiap hari selalu menghitung-hitung jumlah kebaikan yang telah aku buat. Aku ingin selalu mengeingat kesalahan yang sudah pernah aku lakukan. Semoga terpacu semua syaraf di jiwa, bahwa dosa-dosa masih banyak bergelantung di pelupuk mata. Maka janganlah aku pernah menambah tumpukan dosa dengan membicarakan aib dan kesalahan orang lain. Apalagi hanya berbicara berdasarkan gelapnya syak wasangka dari hati yang muncul karena iri. Naudzubillah.

….

Sebuah pagi hari Minggu yang cerah, kami para tetangga saling bercengkerama sambil membersihkan jalan dan got di depan rumah masing-masing. Tak bermaksud untuk bergosip pagi-pagi, tapi kami hanya mengobrol dengan suara agak keras karena masing-masing berada di jalan depan rumahnya sendiri-sendiri. Para bapak sedang mengorek-ngorek got karena memang kemarin ada surat edaran dari ketua RT bahwa Minggu pagi ini kita harus melaksanakan kerja bakti di lingkungan rumah kami masing-masing. Walaupun agak jauh, tapi aku melihat Bu Ghalina dan keluarganya juga melakukan hal yang sama dengan kami.

Tiba-Tiba terdengar suara ribut-ribut dari ujung gang. Seorang ibu berteriak teriak dengan marah. Semua mata tertuju pada sumber suara. Ternyata pemilik suara itu adalah ibu Martha yang tinggal di RT 02. Bu Martha berdua bersama suaminya menuju rumah Bu Ghalina. Wajah Bu Martha merah jelas menampakan kemarahan yang amat sangat. Tanpa sadar kaki kami semua para tetangga melangkah mendekat untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.

” Bu Ghalina dan Pak Shobri, sepertinya anda berdua orang yang alim, berpendidikan tinggi, terpandang di lingkungan ini, tapi kenapa kelakuan anda begitu rendah”. Bu Martha langsung menyeburkan kata-kata yang panjang ke arah keluarga Ghalina.

”Apa maksud Bu Martha?’, tanya Bu Ghalina tak mengerti.

”Jangan pura-pura tidak tahu”, sela Pak Robi, suami Bu Martha.

”Tapi jangan marah-marah dulu, mari silahkan masuk, ga enak dilihat tetangga,” Ajak Pak Sobhri.

” Tak usah. Lagian sekalian biar hal ini menjadi pelajaran bagi semuanya. Biar mereka tahu apa yang sudah anda lakukan. Begini Pak Sobhri, kenapa Bapak ingin membayar lunas rumah di ujung sana. Padahal Bu ghalina tahu bahwa rumah itu sudah mau saya beli. Bahkan saya sudah memberikan DP lima juta rupiah. Tega sekali Bu Ghalina ingin mendahului saya dengan merayu Pak satya”.

”Saya bisa jelaskan Bu,..” terbata-bata Bu Ghalina menjawab dengan wajah yang pucat pasi.

” Saya kesini bukan untuk minta penjelasan. Saya tahu betul apa yang sebenarnya terjadi, karena Pak Satya menceritakan pada kami. Bagaimana keluarga ibu datang ke rumahnya untuk membeli rumahnya. Pak Satya mengatakan bahwa rumah itu sudah laku. Katanya malah ibu dan Bapak bersedia melebihkan harga asalkan rumah itu dijual pada sampeyan berdua, wong Jawa tapi kok ora ngerti tata krama”. Saya hanya bermaksud menegur sampeyan berdua. Perbuatan macam begitu sungguh jahat dan hina. Saya yang bercerita sendiri pada anda bahwa saya sudah membayar DP rumah itu. Tapi kenapa dengan teganya sampeyan berdua datang ke rumah Pak Satya dan mengatakan bahwa Bu Ghalina dan Pak Sobhri bersedia membayar lebih lima juta, dari harga jadi yang diberikan Pak Sobri ke saya?”.

”Ooohh..jadi begitu ceritanya’, gumam para warga yang sedari tadi diam membaca suasana, sekarang mulai mengangguk-anggukkan kepala tanda paham terhadap persoalan. Ada yang mengatakan, ”Oh memang Bu Ghalina dan suaminya yang salah”. Sementara yang lain hanya mengiyakan sambil terus melihat apa lagi yang akan terjadi. Ada yang bergumam ”Tega banget ya, Bu Ghalina dan suaminya, padahal kan mereka berasal dari daerah yang sama”.

Sementara bu Ghalina kelihatan pucat, tak bisa berbicara apa-apa. Suaminya terlihat gagap mau berbicara, ”Kami……..”,

Tapi Pak Robi segera menghentikan satu kata yang baru keluar dari mulut suami Bu Ghalina, ”Kami hanya bermaksud mengingatkan Bapak dan Ibu, jangan sampai kejadian ini sampeyan lakukan pada orang lain. Untung Pak Satya adalah orang yang paham akan ajaran agama. Dia merasa sudah deal dengan saya mengenai jual beli rumah itu, jadi berapapun uang yang akan ibu suap ke Pak Satya, tak akan berhasil. Sungguh saya bahagia masih ada orang-orang seperti Pak Satya. Tapi saya juga sedih, mengapa masih ada orang-orang seperti sampeyan berdua,’ nada bicara Suami Bu Martha lebih tenang. Tapi masih sarat dengan amarah. ”Sudah Bu, ayo kita pulang, tak ada gunanya kita berlama-lama di sini”, kata Suami Bu Martha sembari menggandeng tangan istrinya. Mereka berjalan menjauh tanpa menoleh-noleh lagi. Tak juga bersapa dengan kami.

Warga yang sedari tadi terpaku, merasa terkejut dengan ending tiba-tiba dari Pak Robi. Segera masing-masing melangkah pergi dan berjalan menuju rumah masing-masing sambil berbisik-bisik. Rata-rata mencibir dan menyalahkan keluarga Ghalina. Masih terkejut dengan reality show ironis yang penuh konflik, tapi ending yang terlalu cepat dan gamang.

Termasuk aku. Berjalan dengan segala macam pikiran menggayut di kepalaku. Sejahat itukah Bu Ghalina?. Selama ini aku bercermin padanya. Apakah ini jawaban atas pertanyaan dan kegamanganku selama ini bergaul dengan Bu Ghalina. Ah, tapi................Aku hanya mengambil hikmahnya saja. Toh kalau berlian, walaupun keluar dari mulut binatang haram sekalipun,... masih akan tetap berlian.

11 Mei 2008

KODE ETIK GURU INDONESIA

Guru Indonesia menyadari bahwa pendidikan adalah bidang pengabdian terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Bangsa dan Negara serta kemanusiaan umumnya. Guru Indonesia yang berjiwa pancasila dan setia pada Undang Undang Dasar 1945, turut bertanggungjawab atas terwujudnya cita-cita proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Oleh sebab itu, guru Indonesia terpanggil untuk menunaikan karyanya dengan mempedomani dasar-dasar sebagai berikut:

  1. Guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa pancasila.
  2. Guru memiliki dan melaksanakan kejujuran profesional

Seseorang guru boleh saja pintar dan memiliki kompetensidan motivasi yang tinggi; tetapi kalau secara etik dan moral ia tidak bisa dipercaya, maka ia tidak layak disebut profesional.

  1. Guru berusaha memperoleh informasi tentang peserta didik sebagai bahan melakukan bimbingan dan pembinaan

Perlu disadari bahwa BK untuk siswa bukan hanya tugas guru BK saja melainkan tanggungjawab bersama.

  1. Guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang berhasilnya proses belajar mengajar
  2. Guru memelihara hubungan baik dengan orangtua murid dan masyarakat sekitarnya untuk membina peran serta dan tanggungjawab bersama terhadap pendidikan
  3. Guru secara pribadi dan bersama-sama mengembangkan dan meningkatkan mutu dan martabat profesinya
  4. Guru memelihara hubungan seprofesi, semangat kekeluargaan, dan kesetiakawanan sosial
  5. Guru secara bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organisasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdian
  6. Guru melaksanakan segala kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan

Kode Etik Guru Indonesia ditetapkan dalam Kongres PGRI pada tahun 1973 pada Kongres ke XIII di Jakarta. Kemudian disempurnakan pada Kongres ke XVI tahun 1989 di Jakarta .

Pengurus PGRI yang terdiri para ahli pendidikan sudah sedemikian maksimal dalam menyusun kode etik guru, yang apabila dilaksanakan dengan penuh tanggungjawab oleh seluruh guru RI, maka tak ragu lagi pasti semua carut marut pendidikan kita tak akan terjadi semenyedihkan yang ada sekarang.

Dimana guru meletakkan kode etiknya ???

  1. Kalau mark up nilai siswa sudah dianggap sebagai hal yang biasa?
  2. Kalau subyektivitas penilaian sudah meraja lela, mentang-mentang sama-sama anak guru nilainya didongkrak sedemikian rupa sehingga bisa sama atau tak jauh dari image bahwa buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Padahal guru juga manusia. Punya lemah punya kekurangan. Kenapa harus malu kalau anak –anak kita nilai di bawah standar?
  3. Kalau guru sudah tak peduli lagi dengan siswanya. Jangankan mencari informasi lebih jauh mengenai anak didiknya, nama mereka saja mungkin kita sudah lupa. Astagfirullahal’azim..

Rasanya kode etik guru perlu diimprove lagi. Apalagi kode etik yang berbunyi ” Guru melaksanakan segala kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan”, lalu dimana asas desentralisasi yang selama ini didengung-dengungkan, kalau guru masih harus juga dijejali dengan kewajiban militer alias dilarang menolak perintah atasan?

Sebagai wujud optimisme kita, di luar semua itu masih banyak komunitas guru yang menjaga betul kode etiknya, punya empati yang luar biasa terhadap keberhasilan pendidikan di Indonesia, punya komitmen untuk selalu meningkatkan kompetensi diri supaya layak disebut sebagai profesional.

Untuk mengembangkan kompetensi selaku profesional terampil, memerlukan perjalanan waktu. Dalam rentang waktu itulah seorang profesional akan diuji. Inilah proses pematangan seorang manajer profesional melalui track record.

Hidup guru.....Terima kasih guru.................

Apa tanggapan anda?

KOMPETENSI YANG HARUS DIKUASAI GURU

Robert Housten dan Howard L. Jones

Robert Housten dan Howard L. Jones dalam tulisannya yang berjudul Program Design in Perfomance Based Teacher Education mengemukakan 15 kompetensi yang harus dikuasai oleh guru / calon guru adalah:

1) Mendiagnosis kebutuhan emosional-emosional social, fisik, dan intelektual murid,

Sebagai seorang guru kita harus tahu betul ilmu perkembangan peserta didik. Di rata-rata usia siswanya kecenderungan fisiologis dan psikologis apa yang dialami oleh mereka. Kalau siswa sedang senang terhadap hal-hal yang berkaitan dengan lawan jenis, maka intermeso guru di kelas juga sedapat mungkin dikaitkan dengan dunia siswa. Hal –hal tersebut di bawah ini bisa menarik perhatian siswa:

a. Panggil siswa dengan nama panggilan yang mereka sukai. Trend pergaulan yang ada sekarang adalah menggunakan nama nama gaul yang mereka gunakan untuk kalangan sebaya mereka. Hal tersebut kecil tapi akan cukup menyentuh. Kalau kita tak sanggup menggunakan trik tersebut paling tidak kita tahun nama-nama mereka. Mana Siti, mana Romi, dan mana Rika. Yakinkan mereka bahwa kita mengenal mereka secara pribadi. Jangan sampai siswa mempunyai pikiran dan perasaan seperti

- Ah Paling Pak guru itu tidak akan menyuruh aku untuk mengerjakan tugas di papan tulis karena tidak tahu namaku.

- Bu guru itu kan tidak mengenalku, aku kan hanya satu dari sekian banyak muridnya. Jadi Ga papa kali kalau aku sekali-kali ga ngerjain PR

b. Gunakan tema sinetron remaja untuk menunjang pembelajaran kita. Menggunakan contoh sesuatu yang benar-benar mereka kenal akan sangat menarik karena berangkat dari sesuatu yang sangat mereka pahami. Kalo kita sudah mendapatkan perhatian mereka, tak mudah mengajak mereka ke materi pembelajaran yang menjadi target kita.

c. Musik adalah seni yang sangat human dan universal, Jarang sekali seseorang yang tak menyukai musik, bahkan untuk orang yang tidak bisa menyanyi sekalipun alias hanya sekedar menikmati. Jenis musik yang sedangh trend atau top hits perlun juga menjadi bahan dan wawasan kita untuk bisa diterima sebagai seseorang yang paham tentang dunia mereka. Kalau kita berbicara sesuatu yang sedang digandrungi, sudah pasti mata-mata akan tertuju pada dengan takjub. ”Ternyata guruku gaul juga...”

2) Mengidentifikasi atau memperinci tujuan-tujuan pengajaran berdasarkan kebutuhan murid,

Menjabarkan Kompetensi Dasar menjadi indikator-indikator dengan teliti sehingga sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh siswa. Kompetensi yang harus dikuasai siswa tentu saja harus sesuai dengan perkembangan usianya. Guru harus bisa menentukan kapan dan mana sesuatu materi harus diberikan kepada siswa secara detil dan mana yang bisa hanya diberikan secara global saja karena hanya bersifat pengayaan saja.

3) Merancang pengajaran yang cocok dengan tujuan-tujuan,

Setelah menyusun Indikator kompetensi yang harus dikuasainya seorang guru harus merancang pengajaran dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang sesuai dengan semua indikator yang telah disusunnya dalam silabus. Contoh RPP banyak bertebaran di mana-mana. Sangat mudah di dapat. Tetapi hendaknya diingat bahwa RPP tersebut belum tentu sesuai dengan kebutuhan dengan siswa yang ada di sekolah kita. Tentu kita harus memodifikasinya sehingga sesuai dengan keadaan siswa kita serta fasilitas yang ada di sekolah kita.

4) Melaksanakan pengajaran sesuai dengan rencana,

Betatapun rapinya perangkat pembelajaran yang kita susun, selama kita membuatnya hanya dalam rangka memenuhi kewajiban dari pimpinan dan tidak melaksanakannya di kelas maka hal tersebut ibarat seorang gadis yang bersolek mati-matian untuk pergi ke sebuah pesta, namun setelah ia terlihat cantik jelita, di tengah perjalanan hujan pun turun dan akhirnya semua make upnya luntur.

5) Merancang dan melaksanakan prosedur evaluasi yang berpusat pada apa yang dicapai murid dan efektifitas pengajarannya,

Hal ini berarti guru harus mempunyai pengetahuan di bidang evaluasi pengajaran/pendidikan. Bagaimana menyusun instrumen evaluasi, menganalisisnya sejauhmana daya serap dan ketuntasan belajar siswa dan sebagainya.

6) Mengintegrasikan latar belakang cultural pada murid ke dalam pengajaran,

Membawa dunia siswa ke dalam dunia baru yang akan kita kenal biasa disebut apersepsi merupakan alat yang efektif untuk menggiring pemahaman siswa terhadap materi baru. Budaya lokal di mana siswa tinggal alias lingkungan sekitar sekolah tentu memiliki budaya-budaya khas yang unik sehingga pernak-pernik temanya bisa kita bawa ke kelas.

Contoh:

Lingkungan sekolah berada di pemukiman penduduk yang hampir semuanya mencetak batu bata dan genteng sampai pada proses pembakaran dan pemasarannya, jauh dari pusat keramaian kota, satu-satunya hiburan adalah acara dangdut yang diadakan oleh orang yang sedang punya hajat menikahkan atau mengkhitankan anaknya. Sehingga ketika ada acara demikian seluruh penduduk semuanya berada di tempat pertunjukkan dangdut tersebut.

Pemanfaatannya di kelas:

a. Di kelas IPS bisa berangkat dari pemasaran batu bata dan genteng

b. Di kelas Seni bisa membahas pembuatan genteng dan batu-bata kemudian mengembangkannya dengan pembuatan karya seni yang terbuat dari tanah liat yang notabene banyak berada di lingkungan sekitar sekolah.

c. Di kelas Bahasa Indonesia terdapat cara atau petunjuk cara melakukan sesuatu, bisa mengambil prosedur pembuatan batu-bata maupun genteng

d. Di kelas Pendidikan Lingkungan Hidup, bisa dibahas kerusakan lingkungan akibat eksploitasi tanah yang berlebihan dan akibat buruknya bagi kelestarian lingkungan

7) Mempertunjukkan model-model pengajaran dan keterampilan mengajar yang cocok dengan tujuan-tujuan yang spesifik dan dengan pelajar tertentu,

Metode pengajaran sekarang sudah beraneka ragam. Tidak hanya sekedar diskusi, pemberian tugas, ceramah dan lainnya yang termasuk metode pengajaran tradisional. Problem based Learning, CTL, dan metode-metode yang sedang trend di dunia pendidikan. Kita juga harus terampil menyesuaikan model pembelajaran tersebut dengan karakteristik siswa.( (Lebih lengkap mengenai model-model pengajaran dapat anda lihat di http:/akhmadsudrajat.wordpress.com)

8) Meningkatkan pola-pola komunikasi kelas yang efektif,

Ilmu Komunikasi rasanya tak rugi untuk dipelajari guru sebagai pengetahuan untuk menunjang kompetensinya. Variasi pola komunikasi juga membuat siswa tidak merasa bosan. Jadi tidak hanya guru yang bicara, tetapi siswa juga harus menanggapi guru, siswa menanggapi siswa yang lainnya.

9) Menggunakan sumber-sumber yang cocok dengan tujuan-tujuan pengajaran,

Sumber pengajaran merupakan kreativitas guru. Jadi tidak hanya mengkitalkan buku teks saja. Koran, majalah dan internet merupakan sumber kaya yang up to date. Isu-isu dan fenomena hangat yang terjadi di masyarakat juga pasti menarik dan membantu siswa unuk menambah wawasan sosialnya. Kalau memang sedang heboh lumpur lapindo, bawa saja ke kelas untuk diskusi, di seni ada kontroversi goyang ngebornya Inul daratista, Juga pancingan bagus untuk menarik minat siswa

10) Memonitor proses dan hasil-hasil dalam mengajar dan mengubah pengajaran atas dasar Feedback (umpan balik),

Jangan pernah sungkan untuk bertanya pada anak mengenai cara mengajar kita. Apakah mereka menyukai satu metode tertentu yang pernah kita gunakan, atau mereka merasa bosan dengan metode yang monoton dan terlalu sering digunakan. Kita bisa mengatakan pada mereka bahwa masukan mereka sangat penting untuk kita karena akan membuat kita lebih memahami mereka, apa yang mereka mau, dan acara mengajar yang bagaimana yang membuat mereka merasa nyaman dan mudah paham.

Orang yang berjiwa besar adalah orang yang bisa menerima kritik, apalagi dari orang yang lebih muda dan yunior dari kita alias para siswa kita.

11) Mendemonstrasikan pengetahuan yang memadai tentang pelajaran yang ia siapkan untuk diajarkan,

Yakinkan bahwa kita benar-benar menguasai apa yang kita bicarakan. Jangan pernah ada siswa yang merasa bahwa dia lebih pintar dari gurunya. Kalau hal itu terjadi berarti penampilan kita perlu mendapat permak habis. Bayangkan... Siswa yang notabene jauh usianya di bawah kita, mempunyai experience yang seharusnya jauh di bawah kita juga, tetapi sampai punya penilaian yang seperti itu... wah....What happened aya naon itu namanya.

Boleh sedikit bercerita:

Ketika saya dulu SMA, pernah diskusi di kelas mengenai keinginan untuk mengganti guru IPA, Biologi waktu itu. Hampir 80% siswa di kelas mengatakan bahwa guru tersebut memang tidak kompeten, bahkan ada yang sampai mengatakan bahwa guru tersebut tidak becus mengajar. Indikator yang menjadi penilaian kami waktu itu adalah gaya mengajar guru itu yang tidak pernah berubah. Posisi berdiri hanya berada di depan kelas bagian tengah. Memegang sebuah buku yang tak mpernah ganti, dan tak pernah lepas dari tangan. Pkitangan mata hanya sedikit sekali memkitang ke siswa. Aduh,.... Untung hai itu terjadi sekitar limabelas tahun yang lalu.... Kalau sekarang guru-guru di Indonesia masih seperti itu...mau dibawa kemana generasi muda yang haus segalanya itu...

12) Menggunakan keterampilan-keterampilan organisasi dan manajemen untuk mempermudah dan memelihara pertumbuhan-pertumbuhan sosial, emosional, fisik, dan intelektual murid,

Berkaitan dengan pengelolaan kelas kita juga bisa menerapkan ilmu manajemen. Teknik pembagian kelompok, peraturan diskusi dan dan rambu-rambu lalulintas komentar dalam forum lisan juga memerlukan pengaturan yang manis.

13) Mengidentifikasi dan mereaksi secara sensitif terhadap kebutuhan dan perasaan dirinya dan orang lain,

Kita harus sadar betul akan tuntutan profesi dan pandangan masyarakat mengenai profesi kita, sehingga kita bisa memahami keinginan mereka apa yang seharusnya kita teladankan sebagai soerang guru.

14) Bekerja secara efektif sebagai seorang anggota dari suatu tim profesional,

Mengikuti ajang pergaulan guru juga merupakan sarana yang efektif untuk meningkatkan kompetensi kita. Musyawarah Guru Mata Pelajaran, PGRI, Forum komunitas akademik dan organisasi profesi yang lain pasti sedikit banyak akan memiliki kontribusi positif terhdap wawasan keguruan dan kompetensi kita.

15) Menganalisis efektivitas dan berusaha terus menerus untuk meningkatkan efektivitas.

Jangan pernah malas untuk mengevalusi pembelajaran yang kita lakukan sendiri. Sejauh mana kita berhasil membuat siswa dari tidak tahu menjadi tahu. Jika kita mendapati perubahan walaupun hanya sedikit yang bersifat kemajuan, maka kepuasan akan kita rasakan seolah kita mendapat kebahagiaan yang tak tahu darimana datangnya.

Robert Hourton dan Howard L. Jones. 1990. Assestment of Research on Teacher Education. New York: Mac Millan Publishing Company.

19 April 2008

My Short Story

CERMIN RETAK

Sulit rasanya untuk menceritakan sesuatu yang hanya bisa kita rasakan dalam hati. Menggambarkannya pada orang lain dengan jujur tanpa harus menambah dan mengurangi, sehingga mereka benar-benar bisa merasakan dan memahami apa yang sebenarnya terjadi tanpa ada prasangka akan subyektivitas kita dalam bercerita. Tapi walau bagaimanapun patut rasanya untuk dicoba. Hasilnya memuaskan atau tidak itu terserah anda.
Seorang teman sekaligus tetangga, sebut saja Bu Ghalina. Bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan swasta. Suaminya adalah seorang guru. Penampilan fisik Bu Ghalina ini cukup menarik, perawakan sedang dan memakai jilbab setiap hari sebagai tanda iman yang terpancar dari caranya berbusana. Tutur katanya halus dan jarang terlihat emosi spontan yang pernah ia perlihatkan pada umum. Tak sekalipun kata-kata kasar keluar dari mulutnya Mereka sekeluarga tak banyak bergaul dengan tetangga. Tapi punya reputasi yang cukup baik di lingkungan sekitarnya. Tapi entah mengapa ada rasa gamang menyelinap di hati. Benarkah ia sesopan dan sealim penampilannya. Aku kurang tahu masalah agama tapi tidak juga berarti buta sama sekali. Ada beberapa respon sosialnya yang menurutku terlalu mengelabui dan membuat hatiku bertanya-tanya. Mudah-mudahan cerita ini juga bukan sebagai curahan hatiku yang penuh subyektivitas. Hanya sebagai cara berbagi dengan harapan bisa terpetik sebuah sari yang bisa menjadi pelajaran diri.
Masih lekat di dalam ingatan, sebuah kalimat yang muncul dari mulutnya yang halus. ”Wajar Bu, dia terkena guna-guna seperti itu . Soalnya dia kan tidak pernah sholat. Jadi sulit untuk menghindar dari hal-hal Ghaib seperti itu. Istilahnya dia ngga ada pertahan. Bukan apa-apa lho bu, tapi menurut saya memang begitu keadaannya”. Ketika itu ada dari salah satu rekan kami yang sedang sakit, yang entah bagaimana ceritanya, gosip yang tersebar adalah si rekan ini tadi terkena guna-guna, bahwa penyakit yang dideritanya bukan penyakit medis. Rasa prihatin yang mewarnai obrolan kami waktu itu kurasa memudar tiba-tiba dengan kalimat Bu Ghalina. Kalaupun apa yang dibicarakannya benar, bukankah yang berhak menilai ibadah seseorang itu hanya yang Kuasa. Aku merinding mendengarnya. Lewat pembicaraan itu aku malu sama Allah, bukankah sholatku juga kadang-kadang tak bermutu. Kurang khusu’ atau tidak sama sekali. Bahkan seringkali hanya gerak badan simbolik minus makna, karena dalam lafal Al fatihah yang kubaca yang muncul hanya pikran-pikiranku mengenai masalah di dunia. Astaghfirullah. Lalu akan pergi kemana aku dengan sholat yang begitu tak bermutu?.
Menurut Bu Ghalina semua dosa pasti akan dibalas oleh Allah, sehingga setiap ada musibah yang menimpa sahabat, yang dia kemukakan ”Mungkin itu adalah dosanya, kurang amal sih, jadi kemalingan deh tuh, rasain akhirnya Allah mengambil juga dengan paksa, Makanya Bu, jangan pernah lupa sodaqoh dan berinfaq, supaya kita jauh dari kejadian yang dialami oleh si Parti”, katanya berapi-api seolah ustadzah yang sedang ceramah. Sekali lagi aku bergidik. Selama ini aku selalu pelit. Bukan berarti aku tidak mau beramal, tapi aku masih merasa kekurangan untuk memenuhi kebutuhanku sendiri. Tuhan, beri aku ampunan. Kapan aku beramal kalau aku harus menunggu berlebih. Manusia tak akan pernah puas. Tak pernah mencapai puncak. Selalu muncul puncak puncak yang lebih tinggi ketika kita meraih satu puncak tertentu. Ah, harusnya aku mulai berbagi. Lebih dari sekedar senyum dan amal amal kecil yang keberikan pada para peminta dana. Itupan hanya recehan yang tak ada harganya. Kalau bukan karena Bu Ghalina aku mungkin tak akan pernah ingat bahwa sesungguhnya hartaku yang sebenarnya adalah yang aku berikan pada mereka yang papa. Dalam hati, aku bertanya ”Apakah Bu Ghalina juga selalu bermurah hati dan berbagi rezeki dengan siapa saja? Alangkah bahagianya dia, dikaruniahi harta yang berlimpah sehingg bisa membaginya dengan orang-orang yang membutuhkannya.
Banyak dari kata-kata Bu Ghalina yang membuat aku bercermin dan berusaha mencoba untuk introspeksi diri. Sudahkan aku menjadi baik seperti apa yang dikatakannya? Pernah suatu saat ada rekan yang sedang mendapat rezeki. Dia berusaha membagi rezeki yang dia peroleh dengan cara mentraktir rekan-rekan kami makan di kantin. Satu persatu si rekan ini bertanya pada setiap orang, mau pesan makanan apa dari kantin. Tawaran itu juga diberikan pada Bu Ghalina yang baru saja memasuki ruangan. ”Bu Ghalina mau pesan apa?” tanya si pembagi rezeki dengan bahagia. Bu Ghalina menjawab, ”Eh, tunggu dari uang apa?” tanyanya menyelidik. Si rekan menjawab tanpa prasangaka, ”Ada deh”. Masih dengan wajah menyelidik,” Uang apa dulu?” Ngga mau saya makan dari uang yang tidak jelas dari mana datangnya. Untung si rekan ini punya sense of humor yang bisa diacungi jempol. Dengan santai dia menjawab, ” Oh, tenang, uang halal kok”. Percakapan singkat yang sebenernya aku tak ikut terlibat langsung, tapi cukup membuat aku bergetar. Sanggupkah aku mengajukan pertanyaan yang sama dengan yang ditanyakan oleh Bu Ghalina tadi kepada setiap orang yang menawari aku makan? Mungkin maksudnya untuk menjaga diri dari masuknya makanan haram ke dalam aliran darahnya. Etika sosialku menolak vulgarnya cara untuk menunjukkan bahwa kita beriman. Apakah kita harus berusaha memberitahukan kepada orang lain bahwa kita beriman, dan selalu memakan makanan bersih dan halal. Aku iri pada si rekan yang sanggup menanggapi tanya yang cukup riskan . Aku iri juga pada Bu Ghalina yang begitu kukuh dan siaga supaya tak masuk makanan semabarang ke dalam aliran darahnya. Aku bertanya pada Allah, Apakah aku cukup pantas untuk mengaku sebagai makhlukMu? Apakah aku cukup pantas menjadi umatmu yang baginda Rasululah. Terimakasih Ya rabb, Kau telah mengingatkan aku lewat percakapan sederhana mereka.
Aku tak henti-hentinya bersyukur pada Allah mempuyai teman seperti Bu Ghalina. Di sebuah pagi yang mendung, kebetulan kami bersama sama naik kendaraan umum menuju tempat kami bekerja. Dalam guncangan kendaraan butut yang ditambah dengan kondisi jalan yang memprihatinkan, Bu Ghalina memulai ceritanya, ”Eh, tadi saya malam takut banget. Anginnya kencang sekali, sampai-sampi tiang besi lapangan bulu tangkis yang ada di depan rumah saya bergoyang-goyang, miring kiri-miring kanan. Pokoknya ngeri.” Aku yang memang tidak tahu bahwa semalam terjadi angin kencang menjawab dengan santai, ” Oh Iya Bu, aduh semalam saya tidur sih, saking nyenyaknya sampai ngga kedengeran tuh. Emang jam berapa?’. Bu Ghalina menjawab dengan volume suara yang didengar oleh semua orang yang naik kendaraan umum itu. ” Jam dua malam Bu, waktu itu aku sedang sholat tahajud, makanya saya keluar sebentar untuk melihat keadaan”. Nah Lho? Rasa bertanyaku dalam hati, mengapa dia harus bercerita seperti itu di depan umum, serasa memenuhi dada. Bukankah itu Riya’ namanya. Apalagi?. Tapi Astaghfirullah aku segera mengganti pertanyaan itu dengan rasa syukur. Oh iya, sudah lama aku tidak menunaikan sholat tahajud. Apalagi semalam?. Bukankah angin kencang yang di bilang semalam akan berbahaya kalau menjadi angin badai. Dan itu berarti aku akan kurang berantisipasi kalau tidak dalam keadaan terjaga. Itu berarti aku akan tergolek menghadapi maut dalam keadaan yang tidur lelap dibuai mimpi. Tak seperti Bu Ghalina. Dia sedang dalam sholat malamnya. Untunglah kejadiannya tidak demikian. Dan aku? Tidak salah rasanya apabila merasa iri dan tersaingi oleh bu Ghalina karena rajin ibadahnya. Tak apa, Aku mensyukurinya dalam hati. Bukanlah Sang Nabi menganjurkan supaya kita berlomba-lomba dalam kebaikan. Ah... Aku juga harus rajin sholat tahajud. Insya Allah.
Memang kuakui bahwa setiap orang punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tapi kalau kita menggunakan kelemahan orang lain agar tidak menjadi kelemahan kita sendiri merupakan usaha yang pantas dipertahankan. Kelemahan yang paling membuat merinding bulu roma adalah penyakit hati. Penyakit nonmedis ini juga sulit untuk dicari obatnya. Semoga tak pernah berani penyakit itu bersarang dalam hatiku. Naudzubillah. Kembali aku mendapatkan pelajaran dari Bi Ghalina dalam hal ini. Setiap ada rekan kerja yang mendapat rezeki yang besar, seperti membangun rumah atau membeli mobil dan sebagainya.Ada saja komentar miring yang keluar dari mulutnya. ”Kita kan sama-sama pegawai biasa. Kita saling tahu gaji kita masing-masing, darimana kali dapat uang buat bikin rumah gedung dan mobil mewah. Korupsi kali, Astaghfirullhalazim, jahat sekali saya ya, menuduh orang lain korupsi, tapi bukan apa apa sih, memang begitu kali. Gaji kita sebagai pegawai berapa sih? Semua orang juga tau.”
Tak ada secuilpun rasa turut bahagia ketika orang lain mendapat berkah dariNya. The negatif thingkingnya, bahwa semua orang salah, hanya dia sendiri yang benar. Semua orang banyak dosa kecuali dia sendiri yang suci. Semua orang makan uang haram, kecuali dia sendiri yang mendapat rezeki yang penuh berkah dan rahmat dari Allah.
Aku mengeluh dalam hati. Jangankan sampai terucap, menuduh dalam hatipun sudah merupakan hal yang tak dibolehkan oleh sang Nabi. Ya Tuhan, terimakasih telah Kau beri aku peringatan.
Entah mengapa aku merasa perlu berhati-hati bicara dan bergaul dengan Bu Ghalina. Tutur katanya yang manis kadang-kadang seperti menipu. Penampilan yang alim dan perhatian serta penuh simpati pada musibah yang diterima oleh orang lain terlihat begitu meragukan. Begitu ingin di perlihatkan pada orang lain. Seolah-olah ingin menunjukkan pada semua orang bahwa dia adalah sang sosialis yang penuh iba pada orang lain. Aku jadi teringat pada ajaran Sang Rosul. Jika tangan kananmu memberi, Jangan sampai tangan kirimu mengetahui. Ya Rosulku…. Aku begitu takut kalau-kalau aku setiap hari selalu menghitung-hitung jumlah kebaikan yang telah aku buat. Aku ingin selalu mengeingat kesalahan yang sudah pernah aku lakukan. Semoga terpacu semua syaraf di jiwa, bahwa dosa-dosa masih banyak bergelantung di pelupuk mata. Maka janganlah aku pernah menambah tumpukan dosa dengan membicarakan aib dan kesalahan orang lain. Apalagi hanya berbicara berdasarkan gelapnya syak wasangka dari hati yang muncul karena iri. Naudzubillah.
….
Sebuah pagi hari Minggu yang cerah, kami para tetangga saling bercengkerama sambil membersihkan jalan dan got di depan rumah masing-masing. Tak bermaksud untuk bergosip pagi-pagi, tapi kami hanya mengobrol dengan suara agak keras karena masing-masing berada di jalan depan rumahnya sendiri-sendiri. Para bapak sedang mengorek-ngorek got karena memang kemarin ada surat edaran dari ketua RT bahwa Minggu pagi ini kita harus melaksanakan kerja bakti di lingkungan rumah kami masing-masing. Walaupun agak jauh, tapi aku melihat Bu Ghalina dan keluarganya juga melakukan hal yang sama dengan kami.
Tiba-Tiba terdengar suara ribut-ribut dari ujung gang. Seorang ibu berteriak teriak dengan marah. Semua mata tertuju pada sumber suara. Ternyata pemilik suara itu adalah ibu Martha yang tinggal di RT 02. Bu Martha berdua bersama suaminya menuju rumah Bu Ghalina. Wajah Bu Martha merah jelas menampakan kemarahan yang amat sangat. Tanpa sadar kaki kami semua para tetangga melangkah mendekat untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.
” Bu Ghalina dan Pak Shobri, sepertinya anda berdua orang yang alim, berpendidikan tinggi, terpandang di lingkungan ini, tapi kenapa kelakuan anda begitu rendah”. Bu Martha langsung menyeburkan kata-kata yang panjang ke arah keluarga Ghalina.
”Apa maksud Bu Martha?’, tanya Bu Ghalina tak mengerti.
”Jangan pura-pura tidak tahu”, sela Pak Robi, suami Bu Martha.
”Tapi jangan marah-marah dulu, mari silahkan masuk, ga enak dilihat tetangga,” Ajak Pak Sobhri.
” Tak usah. Lagian sekalian biar hal ini menjadi pelajaran bagi semuanya. Biar mereka tahu apa yang sudah anda lakukan. Begini Pak Sobhri, kenapa Bapak ingin membayar lunas rumah di ujung sana. Padahal Bu ghalina tahu bahwa rumah itu sudah mau saya beli. Bahkan saya sudah memberikan DP lima juta rupiah. Tega sekali Bu Ghalina ingin mendahului saya dengan merayu Pak satya”.
”Saya bisa jelaskan Bu,..” terbata-bata Bu Ghalina menjawab dengan wajah yang pucat pasi.
” Saya kesini bukan untuk minta penjelasan. Saya tahu betul apa yang sebenarnya terjadi, karena Pak Satya menceritakan pada kami. Bagaimana keluarga ibu datang ke rumahnya untuk membeli rumahnya. Pak Satya mengatakan bahwa rumah itu sudah laku. Katanya malah ibu dan Bapak bersedia melebihkan harga asalkan rumah itu dijual pada sampeyan berdua, wong Jawa tapi koki ora ngerti tata krama”. Saya hanya bermaksud menegur sampeyan berdua. Perbuatan macam begitu sungguh jahat dan hina. Saya yang bercerita sendiri pada anda bahwa saya sudah membayar DP rumah itu. Tapi kenapa dengan teganya sampeyan berdua datang ke rumah Pak Satya dan mengatakan bahwa Bu Ghalina dan Pak Sobhri bersedia membayar lebih lima juta, dari harga jadi yang diberikan Pak Sobri ke saya?”.
”Ooohh..jadi begitu ceritanya’, gumam para warga yang sedari tadi diam membaca suasana, sekarang mulai mengangguk-anggukkan kepala tanda paham terhadap persoalan. Ada yang mengatakan, ”Oh memang Bu Ghalina dan suaminya yang salah”. Sementara yang lain hanya mengiyakan sambil terus melihat apa lagi yang akan terjadi. Ada yang bergumam ”Tega banget ya, Bu Ghalina dan suaminya, padahal kan mereka berasal dari daerah yang sama”.
Sementara bu Ghalina kelihatan pucat, tak bisa berbicara apa-apa. Suaminya terlihat gagap mau berbicara, ”Kami……..”,
Tapi Pak Robi segera menghentikan satu kata yang baru keluar dari mulut suami Bu Ghalina, ”Kami hanya bermaksud mengingatkan Bapak dan Ibu, jangan sampai kejadian ini sampeyan lakukan pada orang lain. Untung Pak Satya adalah orang yang paham akan ajaran agama. Dia merasa sudah deal dengan saya mengenai jual beli rumah itu, jadi berapapun uang yang akan ibu suap ke Pak Satya, tak akan berhasil. Sungguh saya bahagia masih ada orang-orang seperti Pak Satya. Tapi saya juga sedih, mengapa masih ada orang-orang seperti sampeyan berdua,’ nada bicara Suami Bu Martha lebih tenang. Tapi masih sarat dengan amarah. ”Sudah Bu, ayo kita pulang, tak ada gunanya kita berlama-lama di sini”, kata Suami Bu Martha sembari menggandeng tangan istrinya. Mereka berjalan menjauh tanpa menoleh-noleh lagi. Tak juga bersapa dengan kami.
Warga yang sedari tadi terpaku, merasa terkejut dengan ending tiba-tiba dari Pak Robi. Segera masing-masing melangkah pergi dan berjalan menuju rumah masing-masing sambil berbisik-bisik. Rata-rata mencibir dan menyalahkan keluarga Ghalina. Masih terkejut dengan reality show ironis yang penuh konflik, tapi ending yang terlalu cepat dan gamang.
Termasuk aku. Berjalan dengan segala macam pikiran menggayut di kepalaku. Sejahat itukah Bu Ghalina?. Selama ini aku bercermin padanya. Apakah ini jawaban atas pertanyaan dan kegamanganku selama ini bergaul dengan Bu Ghalina. Ah, tapi................Aku hanya mengambil hikmahnya saja. Toh kalau berlian, walaupun keluar dari mulut binatang haram sekalipun,... masih akan tetap berlian.