21 Januari 2010
Tanggal 14 Januari 2010
Di SMP Negeri 1 Leuwiliyang.
Tahap implementasi rencana tindakan merupakan bagian yang terpenting dari PTK, karena pada tahap inilah guru peneliti menerapkan rencana tindakan yang telah disusun dan akan dapat memperoleh data yang diperlukan. Data dapat diperoleh melalui observasi pelaksanaan pembelajaran atau dengan melakukan cara pengumpulan data yang lain, misal dengan menyebarkan kuesioner atau wawancara terhadap siswa, atau melalui tes hasil belajar. Berdasarkan data yang diperoleh guru peserta dapat mengevaluasi keberhasilan rencana tindakan atau dampak dari tindakan yang dilakukan guru.
APA ITU OPEN CLASS DAN GURU MODEL?
• Open class adalah kegiatan melaksanakan pembelajaran untuk diamati oleh para observer (guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, dosen, widyaiswara, pimpinan dinas pendidikan, maupun masyarakat umum), yang kemudian dilanjutkan dengan kegiatan diskusi refleksi. Istilah open class biasa digunakan dalam kegiatan Lesson Study, dan dapat dikatakan sebagai kegiatan inti dari Lesson Study.
• Guru model: adalah guru peserta yang mendapat kesempatan untuk melaksanakan pembelajaran di sekolahnya dan diobservasi oleh peserta yang lain
Dalam pertemuan ini aku menjadi guru model dalam openclass yang dilaksanakan tanpa murid karena session yang kami lakukan sekarang ini dilaksanakan waktu liburan semster satu. Jadi kami melaksanakan openclass seperti peer teaching, yakni memperlakukan teman-teman sejawat sebagi peserta didik. Aku mengatakan kalau aku tidak puas karena sebetulknya rencana tindakan yang aku lakukan belum selesai, jadi penampilan mengajarku sebagi model bersifat improvisasi saja. Tentu saja hasil sangat jauh dari baik, karena skenario pembelajarannya pun belum selesai aku buat. Termasuk media pembelajaran juga belum sempat aku kondisikan. Well, paling tidak aku belajar sesuatu dari pengalaman openclassku yang pertama. Hmm... Bukankah pengalaman adalah guru yang terbaik?
Selain hal itu beberapa hal yang aku garis bawahi adalah :
• Tindakan yang dimaksud dalam PTK adalah tindakan yang dilakukan secara sadar dan terkendali, yang merupakan variasi praktik yang cermat dan bijaksana.
• Tindakan mengandung inovasi atau pembaruan, sekecil apapun, yang berbeda dengan yang biasa dilakukan sebelumnya.
• Pengumpulan data berfungsi untuk mendokumen-tasikan pengaruh tindakan terkait bersama prosesnya. Untuk itu, peru dilakukan pengamatan (observasi).
• Aspek yang diamati dalam PTK adalah
- proses tindakannya
- pengaruh tindakan (baik yang disengaja maupun tidak disengaja)
- keadaan dan kendala tindakan
- bagaimana keadaan dan kendala tersebut menghambat atau mempermudah tindakan yang direncanakan dan pengaruhnya
- persoalan lain yang timbul selama kegiatan PTK.
• Pengumpulan data dilakukan pada waktu tindakan sedang berjalan, jadi keduanya berlangsung dalam waktu yang sama.
Tanggal 13 Januari 2010
Di SMP Negeri 1 Leuwiliyang.
Perencanaan adalah proses mengembangkan rencana tindakan yang secara kritis untuk meningkatkan atau memperbaiki proses pembelajaran. Tahapan ini berupa menyusun rancangan tindakan yang menjelaskan tentang apa, mengapa, bagaimana, kapan, di mana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan tersebut akan dilakukan. Agar pembelajaran lebih terarah dan terfokus, ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh guru pemandu yang akan memandu kegiatan ini.
Modal awal penyusunan rencana adalah adanya permasalahan. Berdasarkan permasalahan (juga mencakup penyebab timbulnya masalah), guru peserta mencoba mencari cara untuk memperbaiki atau mengatasi masalah tersebut. Dengan perkataan lain, dalam langkah ini, guru peserta merencanakan tindakan perbaikan yang akan dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut. Langkah ini sangat penting untuk dilakukan karena melalui perencanaan yang matang, maka pelaksanaan tindakan dapat dilaksanakan dengan baik sehingga dapat diperoleh balikan.
Dari Case study yang telah aku susun berikut ini rmusan masalah dan rencana Tindakan yang akan kulakukan.
Rumusan Masalah dan Rencana Tindakan
Rumusan Masalah:
Apakah penggunaan media internet (blog) dapat meningkatkan minat siswa dalam menulis cerpen?
Siswa menunjukkan minat ketika guru menggunakan media internet (blog)
Rencana Tindakan:
1. Guru memberikan penjelasan umum tentang materi ajar atau prosedur kegiatan
2. Guru menunjukkan tulisan tulisan yang ada di dalam blog
3. Guru menunjukkan slide slide yang berisi urutan sebuah cerita
INSTRUMEN
Istrumen yang dimaksudkan dalam PTK model BERMUTU adalah alat yang digunakan oleh guru peserta atau observer untuk mengukur dan mengambil data yang akan dimanfaatkan untuk menetapkan keberhasilan dari rencana tindakan yang dilakukan.
Ada tiga teknik yang dapat digunakan untuk pengumpulan data kualitatif, yakni:
- pengumpulan data melalui pengalamannya sendiri;
- pengumpulan data melalui pertanyaan oleh peneliti, misalnya melalui wawancara, kuesioner, skala sikap, dan tes baku;
- pengumpulan data melalui pembuatan atau pemanfaatan catatan, seperti: data arsip, jurnal, videotape, catatan lapangan, dll.
Instrumen yang digunakan untuk pengambilan data berkaitan erat dengan evaluasi hasil belajar dan kriteria keberhasilan belajar yang ditetapkan
Dilihat dari sisi proses maka instrumen untuk pengambilan data PTK dapat dibedakan menjadi 3, yakni: Instrumen input, instrumen proses, dan instrumen output.
Dilihat dari sisi hal yang diamati, ada tiga jenis instrumen, yakni:
1) Instrumen untuk mengamati guru peserta à terkait dengan keterlaksanaan tindakan atau bagaimana guru peserta melaksanakan pembelajaran sesuai sintaks atau tahapan yang direncanakan.
2) Instrumen pengamatan kelas à untuk merekam segala kejadian yang terjadi dalam pembelajaran.
3) Instrumen pengamatan siswa à untuk mengungkapkan berbagai aspek yang terkait dengan aktivitas atau proses belajar dan hasil belajar yang dicapai siswa, baik secara indivisual atau kelompok.
Secara umum ada beberapa bentuk instrumen yang biasa digunakan, yakni: pedoman observasi, pedoman wawancara, kuesioner, dan tes.
Jenis Data dan Instrumen
Rumusan masalah PTK:
Apakah penggunaan media internet (blog) dapat meningkatkan minat siswa dalam menulis cerpen?
Data Instrumen Catatan
- Keterlaksanaan skenario pembelajaran aktivitas kerja kelompok, kemampuan bertanya
- Hasil belajar kognitif (Pemahaman konsep/materi ajar) Tes uraian
- Minat siswa dalam belajar menulis kuesioner
Ketika mulai memikirkan rencana Tindakan PTK dari rumusan masalah yang sudah aku tentukan sebelumnya dari Case study yang aku tulis tenyata aku menemui kesulitan dengan sarana dan prasarana di sekolahku mengenai internet. Karena alasan teknis, yaitu perbaikan jaringan di sekolah belum selesai, jadi belum bisa digunakan untuk online. Jadi inti dari rencana tindakannku tidak bisa dilaksanakan. Akhirnya setelah aku pertimbangkan masak-masak, aku memutuskan untuk mengganti rencana PTK yang akan aku laksanakan. Karena kalau aku memaksakan diri, berarti aku melanggar prinsip PTK, walaupun itu berarti aku harus mengulang beberapa langkah yang sudah aku lakukan sebelumnya dari awal lagi. Hm... Walaupun berkesan buang waktu, tapi itu adalah satu satunya jalan yang harus aku tempuh.
Dari sekian banyak permasalahan di kelasku, aku akhirnya memutuskan untuk memilih rumusan permasalahan yang aku identifikasi dari Case study yang lain lagi. Berikut ini adalah Case studyku yang kedua.
Case Study:
SULITNYA BERBICARA
Suatu hari, dalam pembelajaran berbicara, tepatnya kompetensi dasar yang aku ajarkan adalah melaporkan secara lisan berbagai peristiwa dengan menggunakan kalimat yang jelas. Aku mencoba untuk menjadi model dalam pembelajaranku sendiri.
Seperti biasa, setelah mengkondisikan kelas dengan mengatur ulang susunan meja kursi yang berantakan karena kebetulan pelajaran sebelumnya menggunakan metode diskusi, dan mengecek kehadiran siswa, aku mulai dengan apersepsi dan motivasi. Aku bertanya pada siswa, apakah meraka suka menonton infotainment, mereka hampir serempak menjawab “Yaaa, suka sekali”.
“Makanan sehari-hari tuh Bu,’
“Gosip artissss top abiss,”
dan berbagai komentar lain yang menandakan bahwa mereka sering sekali menonton acara infotainment.
Apa sih yang menarik selain gosip artis?
“Kuis interaktifnya, Bu”
“Bintang tamunya”.
“Pembawa acaranya cantik” kata seorang anak lelaki yang duduk di meja paling belakang, yang spontan dijawab “huuuuuu” oleh teman-temannya.
“OK, berarti intinya kalian semua sering melihat infotainment kan? Kalian memperhatikan pembawa acaranya kan?, malah tadi ada yang mengatakan pembawa acaranya cantik segala,. Nah... ada yang tertarik untuk menjadi pembawa acara atau presenter infotainment?”. Banyak jawaban dari mereka, ada yang mengajukan nama temannya, ada yang bertanya bagaimana caranya, tapi ada pula yang mengungkapkan “mimpi kaleeee”.
“Eit, bukan mimpi, semua orang berhak untuk bisa menjadi sesuatu yang diinginkannya, kalian semua juga bisa menjadi seorang presenter seperti yang ada di TV. Syaratnya mudah, yang pertama adalah latihan, dan itu yang akan kita lakukan dalam pembelajaran kali ini. Kita akan belajar melaporkan sesuatu secara lisan kepada orang lain, seperti yang sudah dilakukan oleh seorang presenter “.
“Bagaimana? Mau tidak belajar menjadi seorang presenter atau reporter?”.
“Mauuuuu”.
“Boleh Tuh..”.
Seperti biasa suasana riuh terjadi di awal awal kelasku karena mengomentari berbagai pancinganku untuk membawa mereka ke dunia yang akan mereka pelajari. Karena secara jelas aku harus menyampaikan apa kegunaan sesuatu yang dipelajari untuk kehidupan mereka yang sebenarnya di masyarakat. Tetapi suasana riuh itu akan segera berubah hening ketika aku sudah benar benar memberi waktu kepada mereka untuk berbicara, mengungkapkan pendapat, berkomentar dan lain lain yang berkaitan dengan kompetensi berbicara.
Setelah aku menyampaikan Kompetensi Dasar yang akan kuajarkan dan memberitahukan kepada mereka tujuan belajarnya, tak lupa aku menyampaikan kegunaan apa yang akan dipelajari hari itu untuk kehidupan mereka yang akan datang, serta berbagai kemungkinan lapangan kerja yang akan bisa didapat apabila mereka ahli dan mempunyai kompetensi yang baik mengenai materi yang akan dipelajari hari itu, aku melanjutkan dengan menyampaikan prosedur yang akan dilaksanakan. Bahwa mereka akan dibagi menjadi kelompok-kelompok, satu kelompok terdiri dari empat orang siswa. Dan setiap kelompok akan bersama sama menyusun sebuah laporan peristiwa dan melaporkannya di depan kelas.
Sebelum mereka mendiskusikan tugas yang aku berikan untuk di bahas pada masing-masing kelompok, aku memberikan contoh pelaporan lisan di depan kelas, jadi aku menggunakan diriku sendiri untuk menjadi model pembelajaran. Setelah pemodelan selesai aku mengajak mereka untuk bertanya jawab mengenai cara cara pelaporan lisan yang baik dan bagaimana susunan bahasa serta urutan materinya. Tak lupa aku menyampaikan prinsip 5 W dan 1 H kepada mereka supaya materi pelaporan mereka lengkap.
Setelah tanya jawab selesai, aku membagikan artikel artikel berita yang sudah aku siapkan. Masing masing kelompok mendapat artikel yang berbeda dengan kelompok lain. Setelah itu mereka akan menyusun sebuah laporan peristiwa dan melaporkannya di depan kelas, setiap satu kelompok diwakili oleh satu orang.
Mereka mulai berdiskusi dengan anggota kelompoknya. Ada siswa yang aktif, tapi kebanyakan mengobrol sendiri. Aku mulai berkeliling untuk memberikan arahan dan motivasi. Beberapa anak di belakang yang tadinya mengobrol, setelah aku dekati, dia diam dan mencoba untuk berdiskusi dengan anggota kelompoknya, tetapi dia tidak memberikan usulan apa apa. Dia hanya rikuh kepadaku. Sulitnya membawa mereka tertarik untuk berdiskusi dan masuk ke pelajaran ini.
Setelah beberapa lama, aku menanyakan apakah ada kesulitan, tak ada yang menjawab. Hal ini juga yang selalu menjadi suatu pemikiran buatku. Begitu sulitkah untuk bertanya. Apakah mereka malu atau aku yang kurang bisa memberikan motivasi. Atau bahkan aku pernah memberikan reaksi yang salah ketika ada anak yang bertanya, sehingga mereka tidak berani bertanya, atau bagaimana?. Bingung. Berbicara memang tak mudah untuk diajarkan, terutama di kelasku.
Akhirnya waktunya sampai. Mereka sudah selesai dan masing masing sudah menunjuk siapa anggota kelompok yang akan mewakili kelompoknya untuk melakukan pelaporan lisan di depan kelas.
Kelompok pertama diwakili oleh Iva. Dia anak pindahan dari Jakarta, prestasinya nampak lebih menonjol dari siswa lain. Penampilannya lumayan, cukup percaya diri, dan semua ucapannya jelas. Tetapi masih terpaku pada teks yang dia bawa.
Setelah penampilan pertama aku meminta kelompok lain untuk memberi komentar atau menilai penampilan temannya. Tetapi tak ada satupun yang menyampaikan pendapatnya. Hanya komentar komntar yang dan tidak atas pertanyaan pancingan yang aku sampaikan.
“Apakah pengucpannya kalimatnya jelas?” tanyaku
“Ya”.
Bagaimana ekspresi wajah Iva, apakah sudah bagus sesuai dengan laporannya”?.
“Sudaah”.
Dan mereka tak akan memberikan komentar apa apa tanpa aku beri pancingan dengan pertanyaan.
Kelompok kedua diwakili oleh Ema Herviana, siswa pintar tapi pendiam sekali, penampilannya kurang menarik, suaranya tidak terdengar jelas, urutan peristiwa dan kalimat yang digunakan masih hampir sama dengan artikel berita yang aku berikan.
Perwakilan kelompok lain juga tidak menunjukkan perbedaan yang berarti. Kebanyakan masih terpaku pada teks, suaranya kurang lantang, susunan ceritanya tidak runtut, ada yang tertawa-tawa dan tidak mau berbicara karena merasa tidak bisa, dan sebagainya. Bahkan ketika dalam refleksi, ketika aku menanyakan kesulitan apa yang mereka temui untuk melaporkan sesuatu secara lisan, mereka tak memberi reaksi yang berarti.
Aku kecewa dengan apa yang aku dapat hari ini. Bagaimana lagi ya caranya? Supaya mereka benar benar tertarik untuk bisa berbicara di depan umum? Untuk benar benar berusaha dengan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk bisa menguasai kompetensi dasar ini. Tuhaaaaaan Toloooong.
Identifikasi Masalah:
Hasil Identifikasi Masalah Berdasarkan Case Study
Masalah Pembelajaran yang muncul di kelas Masalah pembelajaran yang akan di perbaiki. Analisis Masalah Rumusan Masalah
- Waktu pembelajaran berbicara siswa kurang antusias, kurang berminat serta tidak ada motivasi dalam pembelajaran pelaporan peristiwa secara lisan.
- Siswa merasa gugup, malu, tidak berani, dan tidak percaya diri untuk berbicara.
- Siswa tidak berani mengungkapkan pendapat/bertanya.
- Kemampuan berbicara siswa rendah.
Rumusan masalah yang baru:
Apakah penggunaan media audio visual dapat meningkatkan motivasi siswa dalam kegiatan pelaporan lisan?
Tanggal 11 Januari 2010
Di SMP Negeri 1 Leuwiliyang.
Identifikasi masalah merupakan langkah awal dalam pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Hal ini karena PTK bertolak dari adanya permasalahan dalam kegiatan belajaran yang dilakukan guru peserta. Tanpa adanya permasalahan, langkah-langkah berikut-nya tidak akan bisa direncanakan dan PTK tidak dapat dilakukan.
Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, masalah yang dihadapi guru berkenaan dengan tiga hal, yakni pengembangan kurikulum, penguasaan materi, dan pelaksanaan pembelajaran. Aspek pengembangan kurikulum meliputi pemahaman tujuan mata pelajaran bahasa Indonesia, kemampuan menganalisis standar kompetensi dan kompetensi dasar, pengembangan silabus, RPP, dan penilaian. Penguasaan materi meliputi pemahaman dan penguasaan materi bahasa Indonesia dalam aspek mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis, baik sastra maupun nonsastra. Pelaksanaan pembelajaran antara lain mencakup pemilihan strategi/ model pembelajaran, pendekatan, metode, media pembelajaran, pengelolaan kelas, dan penilaian proses dan hasil belajar. Berdasarkan hal tersebut, ruang lingkup pembahasan dalam topik ini adalah permasalahan yang terkait dengan keterampilan mengidentifikasi masalah tersebut.
Contoh Daftar Masalah dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
Masalah Pengembangan Kurikulum
Kesulitan guru dalam mengembangkan silabus.
Ketidaksiapan guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran Bahasa Indonesia yang terintegrasi.
Kesulitan guru dalam menentukan proporsi alokasi waktu untuk setiap Kompetensi Dasar (KD).
Kesulitan guru dalam menentukan kriteria ketuntasan minimum (KKM).
Kesulitan guru dalam mengembangkan indikator hasil belajar.
Kesulitan guru dalam menentukan teknik dan bentuk instrumen penilaian hasil belajar.
Kesulitan guru dalam memilih materi yang bervariasi
Masalah Penguasaan Materi
Guru kurang menguasai KD berpidato.
Guru kurang menguasai KD memerankan naskah drama.
Guru kurang menguasai KD membaca cepat.
Guru kurang menguasai KD membaca memindai.
Guru kurang menguasai KD membaca puisi.
Guru kurang menguasai KD menulis puisi.
Guru kurang menguasai KD menulis cerpen.
Guru kurang menguasai KD menulis drama.
Masalah Praktik Pembelajaran
Kesulitan guru dalam menentukan model pembelajaran yang sesuai dengan KD yang akan dipelajari.
Kesulitan guru dalam mengoptimalkan kerja kelompok siswa.
Kesulitan siswa dalam membangun/menemukan konsep sendiri.
Kesulitan guru dalam mengembangkan LKS untuk mengembangkan keterampilan berpikir siswa.
Kesulitan guru dalam mengembangkan materi menjadi bahan ajar.
Kesulitan guru dalam memilih metode yang sesuai dengan KD.
Guru masih memandang pembelajaran Bahasa Indonesia sebagai belajar mengenai struktur, bukan keterampilan berbahasa.
Guru kurang memberdayakan media pembelajaran yang ada.
Siswa kurang berani mengemukakan pendapat.
Siswa tidak mau tampil di depan kelas
Motivasi siswa untuk belajar bahasa Indonesia rendah
Siswa tidak mengerjakan tugas yang diberikan guru
Siswa tidak memperhatikan penjelasan guru
Kemampuan membaca cepat siswa rendah
Motivasi belajar siswa rendah
Banyak sekali permasalahan sehari hari yang dianggap biasa oleh guru yang ternyata sebetulnya memerlukan PTK untuk mencari solusinya.
Salah satu cara untuk mendokumenkan pem-belajaran yang telah dilakukan adalah dengan membuat case study.
Akhirnya dengan beberapa session yang aku ikuti, di bawah ini adalah Case Study ku yang pertama.
My Case Study
ANGKAT LAPTOP TINGGI TINGGI
Menulis adalah hal yang sangat sulit diajarkan. Sepanjang yang aku tahu selama menjadi pendidik menulis adalah kompetensi yang sulit mencapai KKM dan siswa memiliki motivasi yang sangat rendah terhadap KD ini. Aku berusaha mencari cara yang bervariasi untuk meningkatkan minat menulis siswa. Aku ingin menghadirkan seorang penulis ke sekolah, tetapi belum kesampaian karena hal tersebut membutuhkan dana yang tidak sedikit. Pernah aku menggunakan media gambar untuk memanacing ide mereka untuk ditulis yang katanya selalu mampet. Bingung apa yang mau ditulis. The problem is rendahnya motivasi menulis.
Pada Kompetensi Dasar yang terakhir di semester satu adalah menulis cerpen. Waduh kerjaan berat nih pikirku. Aku berusaha mencari cara untuk membuat mereka berminat dulu terhadap proses pembelajaran yang aku lakukan. Sebelumnya aku pernah menggunakan media gambar kemudian siswa menyusun cerpen berdasarkan gambar yang aku sediakan. Siswa tertarik memang, tetapi aku merasa waktu tahun kemarin belum maksimal. Menggunakan teknik Cooperative Learning juga kurang berhasil karena banyak anak yang mengandalkan temannya. Sehingga jangankan mau bergabung untuk terlibat secara emosi dengan proses penulisan cerpen yang sedang mereka lakukan, yang ada malah ngobrol sendiri.
Waktu itu aku usai meng up load salah satu puisiku ke blogku di Blogspot. Duh seandainya jaringan di sekolah untuk On line bisa digunakan lagi pasti aku bisa menggunakan internet untuk menarik dan mengambil hati mereka dan merengkuh mereka untuk masuk ke dunia penulisan. Dunia yang sangat aku sukai. Dan aku ingin menularkannya pada mereka. Minat dan motivasi menulis yang tinggi. Tetapi tidak ada salahnya untuk dicoba akhirnya aku memutuskan untuk membawa laptop ke kelas dan menunjukkan kepada mereka dunia tulis menulis yang ada di internet.
Pada pertemuan yang aku rencanakan, aku sudah mempersiapkan medianyanya yaitu laptop, hape tuaku N70 sebagi modem untuk bisa online dan tentu saja mengecek pulsa flashku hihi... tidak lucu kan kalau nanti tiba tiba tidak connect karena habis pulsa.
Kelas aku awali dengan pengkondisian standar yang bisa aku lakukan sebelum memulai sebuah kelas. Menyuruh mereka merapikan barisan meja dan kursi yang menurutku agak berantakan, setelah ditanya ternyata pelajaran sebelumnya adalah diskusi.
Setelah kondisi kelas rapi, aku mengajak siswa untuk masuk ke proses pembelajaran. Aku menyampaiakan kepada mereka kompetensi dasar apa yang akan mereka pelajari hari itu. Aku mengatakan bahwa hari ini kita akan belajar menulis sebuah cerpen berdasarkan pengalaman yang pernah dialami oleh siswa. Tiba tiba ada yang berteriak “waduh” dengan cukup keras. Semua mata menatap ke sumber suara yang ternyata adalah seorang peserta didik laki-laki, yang bernama Abdul Rohman. Aku tersenyum dan bertanya, Kenapa Ceng?. “Hehehe.. susah Bu, jawabnya malu-malu.
Ini dia. ‘Tenang. Tidak susah Kok asal kamu mau. Kamu pernah lihat film Harry Potter? Itu pengarangnya kaya luar biasa karena novelnya laris sekali. Penulis novel ayat ayat cinta juga menuai uang yang tidak sedikit dari hasil tulisannya. Nah. Untuk kamu tidak usah terlalu panjang, cerpen saja dulu. Satu cerpen saja, kamu sudah luarrrrr biasa. Tidak usah yang terlalu panjang. luar biasa. Dan bla bla bla aku terus memompa semangat dan minat mereka untuk menulis.
Kemudian aku memperlihatkan slide slide di laptop sebuah cerita cinderrella tanpa naskah. Aku mengangkat Laptop di depan kelas. Agak berat juga tetapi karena aku ingin memancing minat siswa. Seandainya sekolahku punya In focus tentu aku tidak akan berat berat mengangkat laptop ini tapi bisa memproyeksikannya ke layar LCD. Tapi tidak masalah, karena lihatlah mata mereka.. penuh ingin tahu, bahkan beberapa siswa berkerumun dan maju ke dekat aku berdiri.
Aku mulai memperlihatkan tulisan tulisan anak sekolah seusia mereka di blog blog yang ada di internet. Aku menerangkan bahwa tulisan tulisan itu berada di internet tidak harus mengeluarkan biaya. Bahkan mereka bisa mendapatkan komentar atau kritik dari orang lain dari seluruh Indonesia atau bahkan dari seluruh dunia.
Banyak yang bertanya ini itu yang menunjukkan ketertarikan bahwa mereka ingin juga tulisannya di pasang di internet. Bahkan aku juga mengajak mereka mampir di blogku untuk sekedar melihat tulisan tulisan gurunya yang dipasang di internet. Welll, I got You!!!!
Setelah mereka puas mendengar dan melihat walau hanya dengan berkerumun, dan itu bukan hal yang mudah, karena waktu pelajaran jam ke 7 dan 8. Hmmmm harum sekali aroma siang hari dari tubuh mereka atau jangan jangan dari tubuhku juga. Hahaha.Selanjutnya aku menunjukkan gambar gambar untuk memancing inspirasi mereka dalam menulis cerpen. Slide slide itu aku tunjukkan kepada mereka dan aku bertanya kira-kira cerita apa yang cocok untuk sebuah gambar tertentu. Beberapa menit berikutnya mereka larut dalam proses penulisan tentang gambar slide yang sudah aku printkan untuk mereka. Ingat ya Anak anak... gambar gambar itu hanya untuk inspirasi kalian ya. Kalian boleh menggunakannya sebagai bahan cerita atau menggunakan pengalaman kalian sendiri untuk bahan cerpen kalian. Selamat bekerja.
Pada hari itu aku bahagia untuk sementara, .... kapan aku memeriksanya ya... o iya besok kan kelas mereka ada pertemuan lagi. Aku akan mengajak mereka menyunting pekerjaan temannya dan meng uploadnya ke blogku.
Meningkatkan minat dengan media alakadarnya??? Perjalanan mengerjakan tugas yang aku berikan mungkin menarik bagi yang lain tapi mungkin tidak menarik bagi beberapa siswa yang duduk di belakang. Hiks hiks.. ternyata aku belum bisa mengajak mereka semua untuk masuk ke dunia kata kata.
LEARNING JOURNAL I
Tanggal 21 Desember 2009
Di SMP Negeri 1 Leuwiliyang.
Rencana program yang rencana dilaksanakan untuk satu tahun tetapi dipadatkan menjadi hanya 4 bulan saja. Sehingga tugas tugas terstruktur dan mandirinya harus dilakukan dalam tempo yang lebih singkat dari seharusnya. Itu berarti akan sedikit meminta perhatian lebih dari hari-hari yang aku lalui.
Seperti biasa, program yang sedang aku jalani ini menuntut stamina yang tinggi karena selain lokasinya jauh, tagihan yang harus dikumpulkan juga bukan main main. Karena ada portofolio yang akan dilaporkan ke pihak penyelenggara, yaitu LPTK.
Jam delapan adalah jadwal dimulainya acara, tetapi seperti biasa bukan Indonesia namanya kalau bukan jam karet. Belum lagi permasalahan miskomunikasi tempat penyelenggaraan pertemuan pertama yang sempat dicanceled yang sebelumnya direncanakan diadakan di Dinas Pendidikan, tetapi akhirnya berubah ke SMP negeri 1 Leuwiliyang. TANPA ADA BERITA DARI PANITIA. How can it Be? Untung salah seorang teman berkenan untuk memberi tahu lewat telpon bahwa lokasi penyelenggaraan Program bermutu pertemuan satu tidak jadi dilaksanakan di dinas Pendidikan tetapi diubah ke SMPN 1 Leuwiliyang.
Permasalahan teknis yang seharusnya menjadi tanggungjawab panitia dibahas oleh pemberi materi. That’s not good.
Materi hari ini adalah pendahuluan Program Bermutu dan Pendekatannya.
Pemberi materi menyampaikan secara jelas tetapi masih memuat informasi yang sama seperti yang disampaikan dalan in service. Standar yaitu What, Where, Why, and How. Bahwa bermutu adalah program pemerintah yang dilaksanakan oleh LPTK yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru yang pada ujungnya akan meningkatkan Human Developtment indeks kita bisa meningkat. Karena Indonesia masih menduduki posisi ke 105 lebih. Sangat mengenaskan.
Kompetensi yang diharapkan dalam pertemuan ini adalah kami dapat memahami hakikat Belajar Model BERMUTU, memiliki kemampuan mengkaji pengajaran dan pembelajaran, serta terampil menyusun Case Study.
Tujuan akhir dari pembelajaran bermutu adalah peningkatan hasil belajar siswa, dengan usaha peningkatan kualitas pembelajaran di kelas dengan pelaksanaan lesson study dan CAR (PTK). Ada juga nilai tambah yang diperoleh guru dalam proses pembelajaran bermutu yaitu adanya perolehan angka kredit untuk pengembangan karirnya.
Lesson study
Lesson study adalah suatu kegiatan instruksional yang ditandai dengan adanya proses kolaboratif dari sekelompok guru yang secara bersama-sama merencanakan langkah-langkah pembelajaran termasuk metode, media dan instrumen evaluasinya. Kegiatan ini berlangsung dengan cara salah seorang guru melakukan praktek pembelajaran yang direncanakan di kelas dan yang lain mengamati proses pembelajaran tersebut, setelah selesai pembelajaran akan dievaluasi bersama dan diperbaiki bila ada yang kurang tepat .
• Lesson Study yaitu suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berdasarkan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar.
• Lesson Study dilaksanakan dalam tiga tahapan yaitu Plan, Do, dan See yang berkelanjutan. Dengan kata lain Lesson Study merupakan suatu cara peningkatan mutu pendidikan yang tak pernah berakhir (continuous improvement).
Penerapan Lesson Study dapat meningkatkan kompetensi guru, terutama yang terkait dengan pengetahuan, pengetahuan materi pokok, pengetahuan pengajaran, pengetahuan riset, kapasitas mengamati siswa, menghubungkan praktik sehari-hari dengan tujuan jangka panjang, motivasi, hubungan dengan kolega dan saling bantu, komitmen, dan akuntabilitas.
• Dasar sosial lessons study adalah keterlibatan; dasar pendidikan lesson study adalah perbaikan atau peningkatan mutu.
1. Perencanaan (plan),
a. ide awal,
b. prasurvei yang dimaksudkan untuk mengetahui secara detail kondisi yang terdapat di suatu kelas yang akan diteliti. ,
c. diagnose, dugaan – dugaan sementara mengenai timbulnya suatu permasalahan yang muncul di dalam satu kelas
d. perencanaan, menyusun rancangan yang meliputi keseluruhan aspek yang terkait dengan lesson study. Sementara itu, perencanaan khusus dimaksudkan untuk menyusun rancangan dari tahapan kegiatan ke tahapan berikutnya
2. Tahap pelaksanaan (do) yang sering juga disebut dengan research lesson dan
Pada tahap pelaksanaan (do) dilaksanakan kegiatan sebagai berikut:
a. Guru model melakukan pembelajaran sedang guru lain sebagai observer. Pada tahap yang disebut implementasi ini guru model secara mandiri melaksanakan pembelajaran dan mengimplementasikan inovasi pembelajaran yang akan dikembangkan dan diwajibkan melaksanakan penilaian afektif disamping penilaian lainnya.
b. Observer mencatat jalannya pembelajaran dimana observasi ini difokuskan pada “bagaimana siswa belajar” pada setiap tahapan pembelajaran. Observer melakukan observasi dan dan analisis kegiatan pembelajaran guna mengidentifikasi apakah para siswa telah belajar sesuai dengan yang diharapkan.
3. Tahap post-class discussion (see) atau kegiatan pasca-pelajaran.
a. Upaya evaluasi yang dilakukan oleh para kolaborator atau partisipan yang terkait denga suatu lesson study yang dilaksanakan.
b. Refleksi ini dilakukan dengan kolaboratif, yaitu adanya diskusi terhadap berbagai masalah yang terjadi di kelas penelitian. Dengan demikian refleksi dapat ditentukan sesudah adanya implementasi tindakan dan hasil observasi.
c. Berdasarkan refleksi ini pula suatu perbaikan tindakan (replanning) selanjutnya ditentukan. Fokus utama dalam tahap ini adalah menganalisis “bagaimana siswa belajar”.
d. Hal terpenting yang bagi peserta lesson study adalah mengambil makna apa yang bisa dipelajari dengan dari tampilan tersebut dengan kata lain siswa bisa “belajar apa” dari penampilan guru model tersebut.
Sebelum mengikuti session ini aku sedikit kurang paham mengenai Lesson study, tetapi setelah mengikuti session MGMP Bermutu ini aku jadi merasa jelas. Everything is clear. Aku akan berusah mengajak teman temanku untuk melakukan Lesson Study di sekolah untuk mencari solusi permasalahan di kelas, sharing (sehingga masing-masing dari kami bisa mendapat masukan dari teman teman sejawatku sendiri. Sehingga bisa memberikan wawasan anta satu sama lain dalam mengajar.
Case Study
Studi kasus:
"adalah episode yang diingat, ditulis sebagai sebuah cerita, sebuah naratif. Hal ini harus sangat khusus, sangat bersifat lokal. Harus menyertakan unsur manusia: minat guru, aksi dan kesalahan frustrasi, dan kesenangan atau kekecewaan yang dirasakan pada akhir sesi".
William Louden, ”Case studies in teacher education” (1995)
• Studi kasus adalah episode yang diingat, ditulis sebagai sebuah cerita, sebuah naratif. Hal ini harus sangat khusus, sangat bersifat lokal. Harus menyertakan unsur manusia: minat guru, aksi dan kesalahan frustrasi, dan kesenangan atau kekecewaan yang dirasakan pada akhir sesi".
• Studi kasus atau Case Study adalah rangkuman pengalaman pembelajaran (pengalaman mengajar) yang ditulis oleh seorang guru/dosen dalam praktik pembelajaran mereka di kelas.
• Pengalaman tersebut memberikan contoh nyata tentang masalah-masalah yang dihadapi oleh guru pada saat mereka melaksanakan pembelajaran.
• Melalui pengkajian case study dalam pembelajaran dengan segala komponennya, para guru dapat melakukan evaluasi diri (self evalution), dapat memperbaiki dan sekaligus dapat meningkatkan praktik pembelajaran mereka di kelas.
Pendekatan dalam Model Belajar BERMUTU
- Proses belajar terstruktur dan mandiri di KKG/MGMP selama 16 minggu, dengan bimbingan guru pemandu dan dosen LPTK (2x)
- Dirancang untuk menggunakan semua paket pembelajaran yang sudah ada dan sudah dikembangkan oleh Pemerintah maupun Lembaga Donor (Lesson Study, CLCC, DBE2, NTTPEP, MBE, UT, HYLITE, dll.) secara terintegrasi untuk meningkatkan kompetensi guru
- Dirancang untuk menggunakan tiga pendekatan secara terkombinasi: lesson study, penelitian tindakan kelas, dan case study
- Diwadahi oleh website sebagai tempat repositori materi berbentuk digital dan forum diskusi virtual antar guru, dan dengan tutor/guru pamong.
Well, pada dasarnya aku merasa beruntung bisa mengikuti program ini. Aku sangat suka sekali belajar, seuatu yang belum pernah aku tahu dan aku lakukan, dan sepertinya MGMP Bermutu ini layak untuk menjadi tempat aku mencari sesuatu yang bisa meningkatkan kinerjaku sebagai guru.
20 Desember 2009
The class has beginning.... (Sebuah Learning Journal)
(Sebuah Learning Journal)
Hari pertama :
Tangal : 3 Desember 2009
Pembukaan berjalan lancar, standar dan tak banyak yang baru. Pemateri yang pertama adalah Bapak Yadi Rochyadi, koordinator pengawas kabupaten Bogor, beliau juga seorang teman FB yang cukup intens berdiskusi tentang pendidikan dengan ku di wall Facebook. Aku cukup mengagumi beliau, smart n wise. Aku selalu menyukai kelas kelas beliau yang dalam beberapa kesempatan aku pernah ikuti. Caranya menyampaikan materi tidak monoton, wawasannya luas dan cara menanggapinya penuh simpati. Tak jarang para pemberi materi memberikan reaksi yang kurang simpatik sehingga membuat peserta merasa enggan untuk menyampaikan pendapat.Hal ini pernah aku alami sebelumnya dalam sebuah sosialisasi kebijakan nasional beberapa minggu yang lalu.Dimana aku mencoba mengkritisi kebijakan pemerintah mengenai pelaksanaan Ujian Nasional, tapi jawaban yang aku dapat di luar dugaan, sungguh tak simpatik dan tak memotivasi dan menutup telak berlanjutnya diskusi, Bahkan bisa jadi bagi yang kurang percaya diri, akan malu bertanya lagi di forum selama lamanya. Ironis sekali rasanya. Karena sebagai seorang pendidik, kita harus tahu betul bagaimana cara menanggapi pertanyaan peserta didik, supaya tidak membunuh motivasinya dalam mengikuti proses pembelajaran.
Program yang sekarang aku ikuti adalah program pemerintah yang dibiayai oleh pinjaman dari bank dunia, tak berbeda dengan program bantuan BOS KITA yang diberikan kepada siswa SD, dan SMP. Tujuan dari penyelenggaraan program Bermutu ini adalah uuntuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan meningkatkan kompetensi dan kinerja guru. Bermutu merupakan kependekan dari Better Education through reformed Management and universal teacher upgrading. Mulia sekali tujuannya. Merupakan langkah proses yang sedang dan akan dilakukan oleh pemerintah secara kontinu untuk terus berusaha meningkatkan output pendidikan.
Program MGMP Bermutu ini juga merupakan program pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia pada umumnya. Setelah proses pembelajaran yang dilaksanakan sebanyak 16 kali pertemuan guru diwajibkan untuk mengumpulkan tagihan sebagai berikut:
Tugas Individu:
a. Silabus 1 tahun
b. RPP 1 tahun
c. Bank Soal
d. Learning Jurnal
Tugas Kelompok
a. 3 Kajian Kritis
b. 3 Proposal PTK
c. 3 Laporan PTK
Wow... bukan hal yang mudah tetapi juga bukan hal yang terlalu sulit untuk dilaksanakan, semua hanya tergantung niat dan kemauan. Where there is a will there is a way. Apalagi tentu s ja semua itu dituntut karena kami selama proses pembelajaran akan dibekali dengan berbagai pengetahuan dan materi.
Di awal training ini aku juga berharap, tidak akan menyia nyiakan uang hutang yanag akan dibayar oleh anak cucuku sendiri. Semoga Alla memberikan cahaya di hati dan akalku sehingga bisa menerima materi dengan mudah semudah Sponge Bob dalam menyerap air.
Hari kedua:
Tanggal 4 Desember 2009
Setelah menempuh perjalanan yang jauh akhirnya tubuhku berusaha memulihkan diri dengan kualitas tidur yang kurang maksimal. Hari kedua mengikuti in service ini diawali dengan keraguan apakah aku akan berangkat ke Dinas pendidikan dengan motor atau naik kendaraan umum saja. Tapi karena waktu sudah siang, maka aku memutuskan untuk naik motor lagi karena kalau naik kendaraan umum, pasti aku akan datang terlambat ke Dinas Pendidikan di Cibinong.
Jam delapan pagi aku sampai tujuan. Alhamdulillah tidak terlambat. Karena aku paling tidak suka melewatkan pembukaan dari suatu kegiatan, entah itu rapat, kuliah, penataran atau bahkan melihat film sekalipun. Aku akan kehilangan mood untuk mengikuti sebuah kegiatan apabila aku datang terlambat..Maka di dalam kelas kelasku aku selalu mengutamakan opening. Aku harus meraih hati anak, meraih jiwa peserta didikku untuk bersama-sama berkumpul di dunia yang kami dtangi bersama selama mungkin kurang lebih 2 x 45 menit. Dengan itu aku berharap, tujuan pembelajaranku akan berhasil karena kami “berada” di “jalur” yang sama Tetap alangkah kecewanya aku karena kelas harus ditunda karena alasan teknis. Ruang dipakai oleh Dinas untuk pelantikan Pengawas. Dua jam full kami menunggu.
Seharusnya hal tersebut tidak terjadi. Secara teknis panitia harus mengatur pelaksanaan kegiatan baik waktu dan tempat jauh hari sebelum pelaksanaan, apalagi untuk kegiatan yang dibiayai oleh bank dunia ini. Yang nota bene adalah menambah beban negara dan rakyat. Selain itu secara psikologis semangat belajar kami sudah drop karena adanya penundaan 2 jam. Tak beda dengan susanana kelas yang harus dibangun dari awal. Perkembangan peserta didik harus kami kuasai untuk bisa membawa dunia kita ke dunia mereka, dan sebaliknya seperti dalan Quantum Teaching. Dalam kesempatan Andragogi seperti ini, tentu saja hal tersebut juga harus menjadi suatu hal yang patut dipertimbangkan oleh panitia.
Cuaca hari ini sangat panas, proses diskusi kelompok yang kami lakukan amat sangat tidak kondusif karena hampir semua peserta menggunakan kertas untuk berkipas kipas mencari sedikit hawa segar. Seharusnya diskusi yang dilakukan oleh kelompok kecil ini satu atau dua kelompok dipresentasikan di depan kelas, tetapi karena waktu sudah tidak memungkinkan lagi maka hasil diskusi kelompok kecil pun dikumpulkan sebagai hasil dari kegiatan kami hari ini.
Materi yang kami diskusikan hari ini adalah silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Seharusnya metode pembelajaran dan media pembelajaran harus sudah kami terima lebih dulu sebagai bekal untuk memilih metode dan media yang bervariasi dalam rencana pembelajaran yang sedang kami susun.
Hari ketiga:
Tanggal 5 Desember 2009
Belajar Mengajar, belajar untuk mengajar dengan baik. Itu hal yang tengah kami lakukan. Karena alasan pemateri mempunyai acara lain, maka jadwal pemberian materi diubah urutannya. Hm..ironis sekali. Susunan materi yang seharusnya materi prosedural dibalik susunannya. Walhasil outputnya tidak maksimal. Pertemuan hari kedua membahas mengenai metode dan media pembelajaran, baru kemudian hari ketiga , setelah kami mengupas tuntas mengenai media dan metode, maka barulah seharusnya kami membuat silabus dan RPP.
Panitia tidak menyadari hal ini. Dengan alsan teknis dan praktis ditukarlah jadwal hari kedua dengan jadwal hari ketiga dan sebaliknya.
Penyajian pertama adalah mengenai media pembelajaran. Cukup banyak yang kudapat dari pembelajaran ini. Kadang kadang kita kurang menyadari begitu banyak media yang seharusnya digunakan guru untuk mengajar di kelas tetapi karena guru sudah terlalu sibuk dengan dunianya yang bermacam macam maka seringkali media tersebut tidak digunakan karena kurang prepared dalam mengajar. Sehingga yang terjadi di lapangan adalah direct instruction, ekspositori, dan sedikit CL yang menurutku banyak kehilangan makna karena kadang kadang guru kurang melakukan kontrol terhadap diskusi yang diadakannya.
Tagihan yang harus dikumpulkan oleh peserta training di pertemuan berikutnya adalah mengumpulkan Learning jurnal, yang hanya sekilas disebutkan dalam materi in servise itu oleh Pak Yadi sebagai sebuah catatan mengenai proses pembelajaran, yang bersifat santai dan tidak ilmiah.Yang berisi kesan dan pesan yang kita rasakan selama proses pembelajaran. Hal ini merupakan baru untukku. Karena mereka tak menerangkan lebih lanjut apa itu learning journal, apa manfaatnya, dan bagaimana memulai menulisnya. Well. Setelah browsing sana sini, berikut uraian singkat mengenai jurnal yang aku dapat dari Mbah Google:
Jurnal merupakan sebuah catatan sebagai alat untuk menemukan diri, alat meningkatkan konsentrasi, cermin untuk jiwa (kontemplasi), tempat untuk menghasilkan dan menangkap ide-ide, tempat mengelola emosi, tempat latihan menulis dan teman yang baik yang bisa dipercaya. Secara fisik jurnal bisa merupakan buku catatan, kumpulan kertas yang dijilid rapi, file di komputer atau rekaman audio.
Tujuan melayani merekam peristiwa-peristiwa luar dan mencurahkan pikiran dan perasaan ... Seperti sebuah diary, jurnal adalah sebuah tempat untuk mengungkapkan semua dengan jujur. Tetapii jurnal juga merupakan tempat untuk membuat rasa dari apa yang keluar ... The journal is a working document. Jurnal adalah sebuah dokumen kerja.
Learning Journal bermaksud bahwa ada niat yang menyeluruh oleh penulis (atau mereka yang telah mengatur tugas) bahwa belajar harus ditingkatkan'
Berikut ini juga beberapa inti penting dari hasil browsing yang aku dapatkan sebagai bekal untukku dalam membuat jurnal pembelajaran yang akan datang
Lengkapi informasi ini setelah setiap kali Anda melakukan beberapa pekerjaan di lapangan. Hal ini bisa menjadi petunjuk untuk menulis learning Jurnal.
Nama
Sesi tanggal
Sesi nomor
Sesi topik
Apa yang saya baca untuk sesi ini (selain dari catatan)?
Apa hal yang paling menarik untuk saya membaca sesi ini (menandainya dengan tanda bintang di atas) - kenapa itu?
Apa yang tiga hal utama yang saya pelajari dari sesi ini?
Apa yang saya pikir sebelumnya itu benar, tetapi sekarang tahu untuk menjadi salah?
Apa yang kita tidak menutupi bahwa saya diharapkan kita harus?
Apa yang baru atau mengejutkan bagi saya?
Apa yang telah saya berubah pikiran tentang, sebagai hasil dari sesi ini?
Satu hal yang saya pelajari dalam sesi ini bahwa aku mungkin dapat digunakan di masa depan adalah ...
Saya masih yakin tentang ...
Isu yang tertarik saya banyak, dan bahwa aku ingin belajar secara lebih rinci
Ide untuk tindakan, berdasarkan pada sesi ini ...
Apa yang saya paling suka sesi ini adalah ...
Apa yang saya paling tidak disukai tentang sesi ini adalah ...
fakta menarik yang saya pelajari dalam sesi ini ...
Belajar Efektif Menulis Jurnal - Presentation Transcript
1. Menulis jurnal Bahan pembelajaran yang efektif yang dikembangkan oleh Learner Unit Pengembangan di University of Bradford
2. Rencana ...
a. Memperjelas peranan dan tujuan belajar jurnal
b. Mengidentifikasi unsur-unsur yang berbeda dari 'belajar' yang dapat dicatat dalam jurnal
c. Identifikasi fitur jurnal pembelajaran yang efektif
d. Jurnal pembelajaran adalah:
Sebuah kumpulan catatan tentang proses.
e. Tujuan: mendorong kesadaran tentang bagaimana Anda belajar.
3. Keuntungan dari belajar membuat jurnal
a. Untuk mengidentifikasi atau mengenali kekuatan Anda, sehingga Anda dapat memanfaatkan ini;
b. Untuk mengakui keterbatasan Anda saat ini;
c. Untuk mengidentifikasi daerah-daerah untuk perbaikan dan pengembangan diri;
d. Untuk mengidentifikasi cara belajar yang cocok untuk Anda yang terbaik;
e. Untuk mendapatkan informasi tentang potensi Anda kontribusi untuk tugas di masa depan;
f. Untuk mengakui kesalahan Anda sendiri dan kesalahan orang lain.
4. Belajar situasi: Konteks matriks Skill Nyaman akrab Secara Tidak nyaman Unfamiliar
5. Latihan 1
a. Pikirkan pengalaman belajar masa lalu dan menerapkan matriks untuk itu
b. Tambahkan kolom ketiga bagaimana Anda rasakan pada saat
c. Akhirnya, komentar mengenai efek situasi untuk Anda, misalnya apa efek atau dampak yang melakukannya pada Anda.
6. Belajar meliputi:
a. Pengetahuan Anda - apa yang Anda ketahui;
b. Keterampilan Anda - kemampuan Anda untuk menerapkan pengetahuan dalam konteks tertentu
c. Perasaan Anda tentang episode pembelajaran dapat mempengaruhi masa depan Anda pendekatan untuk situasi yang sama.
7. Latihan 2: Ambil dari jurnal belajar
a. Apa yang terjadi di jurnal ini?
b. Apa siswa coba lakukan dalam entri jurnal ini?
c. Cobalah dan mengidentifikasi fitur yang berbeda dari ekstrak.
8. In the journal extract: Dalam jurnal ekstrak:
a. Mahasiswa:
b. Menggambarkan apa yang terjadi selama kelas
c. Mengkritik aspek media pembelajaran, misalnya video
d. Merangkum apa yang dia belajar
e. Mencerminkan apa yang dia menikmati mengenai kelas
f. Menawarkan tanggapan pribadi ke diskusi kelas
g. Mengungkapkan / rasa takut pada dua tingkatan: menggambarkan mereka; dan analisis mereka.
9. Unsur kunci dari pembelajaran yang efektif jurnal
a. Keterangan:
b. Apa yang terjadi;
c. ketika; mengapa, di mana
d. bagaimana; orang yang terlibat.
10. Refleksi: tujuan Anda, perilaku, perasaan, dan pengamatan pribadi mengenai apa yang terjadi Learning: Apa yang Anda pelajari, apa yang akan Anda lakukan secara berbeda; bagaimana Anda telah berubah kelas Lihat catatan untuk masalah-masalah khusus Anda bisa alamat
11. Gaya penulisan
a. Anda harus menggunakan istilah orang pertama, misalnya 'aku', atau 'Aku', karena ini adalah tentang Anda, dan tanggapan pribadi Anda untuk belajar Anda.
b. Membuat tulisan yang benar untuk kepribadian Anda.
c. Cobalah dan menulis secepat mungkin setelah kejadian, karena hal ini akan mendorong yang benar dan jujur refleksi peristiwa.
d. Jangan menulis untuk menyenangkan tutor Anda; bersikap adil dan objektif, tetapi di atas segalanya, jujur.
Aku banyak mendapat hal baru dalam browsingku kali ini. Aku berharap learning Journal yang harus aku buat selama enambelas kali pertemuan mendatang menjadi semakin kreatif sebagai saranaku utnuk refleksi diri terhadap semua proses learning yang aku lakukan. Sebagai saranaku untuk meningkatkan kemampuan menulisku. Sebuah ide yang muncul di benakku adalah sebuah novel pendidikan yang berisi learning journal sehingga bisa menambah wawasan bagi para guru tetapi tidak terkesan menggurui karena dikemas dengan bahasa fiksi. Seperti apa yang bentuknya? Oh I Can’t wait any longer. Aku harus minta semua dokumentasi learning journal yang dibuat oleh teman teman anggota MGMP Bermutu yang lain sebagai bahan untuk penulisan novel impianku..... hahahahaha...
http://www.brad.ac.uk/lss/learnerdevelopment
www.infed.org/research/keeping_a_journal.htm .
www.infed.org / penelitian / keeping_a_journal.htm.
Disusun Oleh Endang Setiyaningsih, S.pd,M.M
Asal: SMPN 2 Parungpanjang